Sabtu, 11 April 2026

Peretas Situs Dewan Pers dan Kejaksaan Agung Pegawai Laundry Lulusan SMP

Himawan menerangkan, dari pemeriksaan, pelaku telah meretas 100-an situs dalam dan luar negeri sejak 2013.

TRIBUNNEWS/ABDUL QODIR
Adi Syafitrah (28), peretas situs Dewan Pers, Kejaksaan Agung, dan ratusan situs lainnya, 

WARTA KOTA, PALMERAH - Masih ingat dengan Haikal M Aziansyah alias SH, remaja 19 tahun lulusan SMP yang berhasil membobol 4.600 situs, termasuk akun situs tiket.com bernilai Rp 4,1 miliar?

Lebih kurang sama seperti Haikal, pelaku peretas situs Dewan Pers, Kejaksaan Agung, dan ratusan situs pemerintah, Adi Syafitrah (28) merupakan seorang pegawai laundry atau binatu di hotel. Ia pun lulusan SMP.

"Pendidikan terakhir AS adalah SMP. Pekerjaannya, wiraswasta sebagai tukang laundry di hotel," ujar Kasubdit II Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri Kombes Himawan Bayu Aji, dalam jumpa pers pengungkapan kasus peretasan situs Dewan Pers, di kantornya, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (9/6/2017).

Baca: Hizbut Tahrir Indonesia Mengaku Tak Ambil Dana Ormas dari Pemerintah

Himawan menerangkan, dari pemeriksaan, pelaku telah meretas 100-an situs dalam dan luar negeri sejak 2013. Keahlian itu didapatnya melalui proses otodidak saat bekerja sebagai karyawan warnet.

Adi mengaku latar belakang atau motifnya melakukan pembobolan situs-situs karena untuk mencari kepuasan batin atau 'pelarian', pasca-rumah tangganya hancur atau cerai.

Selain itu, peretasan dilakukannya untuk mencari pengakuan atau eksistensi dari komunitas peretas alias unjuk gigi.

Baca: Mantan Menteri Jokowi Pimpin Tim Sinkronisasi Anies-Sandi

Peretasan yang dilakukan berupa mengubah tampilan muka (deface) situs tertentu. Situs tersebut akan tidak bisa diakses jika pelaku melakukan peretasan.

Ia membantah melakukan perusakan data maupun pencurian data saat melakukan pembobolan terhadap situs tertentu. Dalam setiap beraksi, Adi kerap menggunakan nama akun M2404 dan pemulungelektronik@gmail.c om.

Adi mengaku, selain situs Dewan Pers dan Kejaksaan Agung, ia juga pernah membobol situs pemerintah daerah saat terjadi serangan teror bom molotov di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, pada 13 November 2016.

Baca: Menteri Agama: Hizbut Tahrir Indonesia Gerakan Politik, Bukan Dakwah Keagamaan

"Saya pernah deface Samarinda waktu kejadian salah satu korban bom di gereja di Samarinda, saya deface untuk menyampaikan pesan duka cita," ucap Adi.

"Kalau Samarinda cuma pesan duka cita aja sih. Kalau yang Dewan Pers, saya cuma pengin sampaikan apa yang diributkan selama ini," imbuhnya. (*)

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved