Civitas Untag 45 Sunter Demo, Masalahkan Penggelepan Tanah
Aksi mereka pun juga mengarah ke sebuah gedung berlantai empat yang saat ini masih dalam tahap pembangunan PT GM itu.
WARTA KOTA, TANJUNGPRIOK - Ratusan Mahasiswa, karyawan, dosen, serta rektorat Universitas Tujuh Belas Agustus (UTA) 1945 Jakarta turun ke jalan untuk menggelar aksi damai, di Jalan Sunter Permai Raya, Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (23/5/2017).
Aksi itu pun bertujuan menuntut soal penyelesaian kasus penggelapan tanah milik yayasan UTA 1945 Jakarta yang diduga dilakukan sejumlah oknum mafia tanah, yakni Direktur PT GM, Tedja Widjaja.
Pantauan Warta Kota, sejumlah mahasiswa beralmamater merah bersorak menyerukan aksi mereka di depan Sekolah Lentera Kasih. Para mahasiwa itu membawa spanduk yang berisikan dugaan penyerobotan tanah, yang dilakukan Tedja dan oknum kawanan lainnya tersebut.
Aksi mereka pun juga mengarah ke sebuah gedung berlantai empat yang saat ini masih dalam tahap pembangunan PT GM itu.
Tidak hanya itu, mereka menyebut pembangunan itu mangkrak dan tak jelas peruntukannya.
Perwakilan mahasiswa UTA Jakarta, James Erikson E Tamba mengatakan, yayasan UTA 1945 Jakarta melakukan kerjasama dengan PT GM guna lakukan sejumlah pembangunan gedung kampus I berlantai delapan.
Namun, penyerahan tanah yang seluas lima hektar di Cimanggis, Depok, serta Cibubur yang untuk pembangunan kampus II, dan menyerahkan pembayaran dalam bentuk tunai.
"Namun itu perjanjiannya yang dilakukan pada Oktober 2010 itu hingga kini tak pernah yang namanya terselesaikan. Anehnya sampai saat ini mereka belum laksanakan kerjasama itu," kata Erikson.
Erikson pum menduga, Tedja Widjaja CS telah menggelapkan surat resmi kerjasama itu dan melakukan kerjasama dengan oknum yayasan UTA 45, Dedi Cahyadi, untuk menandatangani surat pemecahan sertifikat tanah.
"Kami pertanyakan masalah sengketa tanah tersebut. Mengapa tanah yang berstatusnya sengketa dapat didirikan bangunan. Jangan-jangan apa tanah tersebut sudah dijualnya," jelasnya.
Lebih jauh, Erikson menambahkan, dalam aksi ini pihaknya menuntut ke aparat hukum untuk segera menyelesaikan permasalahan tersebut serta menangkap Dedi Cahyadi yang kini telah diberhentikan tidak terhormat pada 2016 lalu.
"Kami meminta pemberhentian pembangunan gedung yang berdiri di atas tanah sengketa ini dalam waktu cepat," tutupnya.
Demo tersebut pun berakhir sekitar 10.30 WIB dan terpantau kondusif. Namun, selama para mahasiswa menyerukan suaranya, sepanjang Jalan Sunter Permai Raya sempat tersendat, dan tengah dilakukan penguraian kemacetan oleh pihak kepolisian setempat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20170523-demo-mahasiswa_20170523_194110.jpg)