Listrik Kerakyatan Bikin Pengusaha Kecil Jadi Pengembang Listrik Swasta
STT PLN telah meluncurkan inisiatif Listrik Kerakyatan yang ramah lingkungan dan sebagai alternatif untuk menjawab berbagai dilema pada sistem kelis
Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Alija Berlian Fani
WARTA KOTA, TAMAN MINI -- Sekolah Tinggi Teknik (STT) Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah meluncurkan inisiatif Listrik Kerakyatan (LK) yang ramah lingkungan dan sebagai alternatif untuk menjawab berbagai dilema pada sistem kelistrikan saat ini.
"Sebagai solusi, LK mengadopsi distributed generation yang dapat dibangun pada lahan kurang dari 1.000 meter persegi," kata Supriadi Legino, Ketua STT PLN di acara Karya Untuk Negeri di Sasana Kriya TMII, Jakarta Timur, Kamis (18/5/2017).
Menurutnya LK memiliki filosofi 1.000x1 = 1x1.000, artinya membangun 1 unit 1.000 MW oleh investor raksasa yang sarat dengan masalah.
Sama hasilnya dengan membangun pembangkit listrik berkapasitas 1 MW yang lebih sederhana dan bisa dikerjakan lebih cepat secara gotong royong oleh 1.000 pengusaha lokal.
"LK memberi keuntungan berupa peluang bagi ribuan pengusaha kecil di setiap daerah untuk menjadi pengembang listrik swasta. Selama ini hanya didominasi oleh pemodal raksasa dan pihak asing," ungkapnya.
Supriadi menambahkan, dengan demikian LK memberi dampak positif bagi masyarakat karena membuka lapangan kerja dalam bidang ketenaga listrikan terutama di tingkat pedesaan.
Perkembangan LK pun diyakini akan memperlambat laju defisit energi listrik yang saat ini masih terjadi di luar Jawa.
"Ini merupakan jawaban untuk penyediaan listrik daerah terisolis dan pulau-pulau luar yang terlalu mahal biayanya apabila dibangun dengan sistem konvensional," jelasnya.
LK mengunakan energi terbarukan yang ada di sekitar masyarakat seperti: matahari, angin, biogas, biomasa sampah untuk perkotaan, dan pohon Kaliansra merah untuk pedesaan.
Pengunaan energi tersebut dapat menghemat penggunaan sumber daya fosil dan mengurangi pemanasan global, serta menyelesaikan persoalan sampah di perkotaan.
Dalam kajian awal, biaya investasi speskfik untuk paket 2 ton sampah per hari adalah Rp 400 juta, biaya operasi sekitar Rp 90 juta per tahun.
Dengan pendapatan dari tipping fee yang sama dengan yang dikeluarkan Pemda selama ini dan dari penjualan energi listrik berdasarkan ketentuan pemerintah, maka paket tersebut bisa balik modal dalam waktu kurang dari 5 tahun.
Selain itu akan ada tambahan penghasilan dari penjualan sampah berharga dan pupuk, sehingga LK dapat menjadi peluang bisnis yang menarik dan terbuka luas bagi masyarakat. (M9)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20170518listrik-kerakyatan-bikin-pengusaha-kecil-jadi-pengembang-listrik-swasta1_20170518_135740.jpg)