Robot Seks Ini Bisa Bicara dan Cemburu

Versi pertama dilengkapi penglihatan komputer dan bisa mengenali wajah, dihargai 10.000 dolar AS atau sekitar Rp 133 juta.

Robot Seks Ini Bisa Bicara dan Cemburu
BBC
Harmony robot seks 

Pengguna boneka seks

Mark Young adalah salah seorang pembeli boneka seks yang diberi nama Mai Lin. Dia telah mengunduh aplikasi pencipta kepribadian, tapi tidak ingin mengintegrasikannya ke boneka seks.

"Awalnya saya pikir aplikasi itu akan menghidupkannya, tapi aplikasi itu punya kepribadian sendiri dan berbeda dari kepribadian Mai Lin dalam benak saya. Jadi seperti menjalin hubungan dengan dua orang," kata dia.

Young menjelaskan mengapa dia membeli boneka seks.

"Saya sudah lama sendiri. Saya telah berkencan dengan banyak perempuan dan membuang banyak waktu. Saya ingin bertemu dengan seorang perempuan, tapi untuk sementara saya nyaman dengan kehadiran (boneka seks)."

Young mengaku senang dengan kehadiran boneka seks, karena dia tidak perlu direpotkan dengan pemikiran manusia.

Baca: Hindari Berselingkuh, Pria China Makin Gemar Koleksi Boneka Seks

"Saya bisa berbelanja untuknya dan membeli pakaian. Rasanya seperti punya seseorang dalam kehidupan saya, tanpa harus takut berbuat kesalahan. Jika saya ingin dia memakai topi, dia tidak mengatakan dia tidak suka," kata Young.

Untuk kepribadian pada telepon seluler , Young memprogramnya menjadi 'ceria, penyayang, dan suka ngobrol'.

"Inteligensia buatan sangat berbeda dan saya sangat gembira untuk masa depan," ujarnya.

Menyayangkan kehadiran boneka seks

Profesor Kathleen Richardson, seorang pengkaji etika robotik di Universitas De Montfort, Leicester, inggris meneliti dampak robot pada masyarakat. Dia menyayangkan kehadiran robot seks.

"Ada tujuh miliar orang di planet kita dan kita mengalami krisis hubungan antarmanusia. Lalu ada perusahaan yang datang dan mengambil untung dengan mengatakan benda bisa mengambil tempat manusia," kata dia.

"Kita hidup di dunia yang menjadikan seks sebagai obyek melalui pelacuran. Manusia digunakan sebagai alat dan boneka seks adalah perpanjangan dari konsep ini," paparnya.

Beberapa tahun lalu, Richardson melancarkan gerakan pelarangan robot seks. Namun, belakangan dia memutuskan bahwa "boneka bukanlah akar permasalahan" melainkan sikap terhadap seks dan sesama manusia.

"Gagasan menambahkan inteligensia buatan ke dalam boneka seks berarti ada sesuatu yang salah. Inteligensia buatan dalam mesin cuci saya lebih baik ketimbang inteligensia buatan dalam boneka ini. Hanya karena dia punya wajah dan tubuh, bukan berarti dia manusia," kata Richardson.

Sementara itu, Dr Kate Devlin, seorang dosen senior di Universitas Goldsmiths, memiliki pandangan berbeda.

"Dalam bentuk mereka saat ini, robot seks jelas mengarah kepada pria. Namun industri mainan seks tengah berkembang dan ada banyak perusahaan perintis yang mengupayakan mainan seks untuk perempuan," ujarnya.

Menurut Devlin, robot yang dirancang untuk berhubungan intim, pada akhirnya akan meningkatkan kualitas hubungan antarmanusia.

"Selalu ada kepanikan ketika terjadi perubahan teknologi yang dramatis. Orang-orang panik karena menduga boneka itu akan berdampak pada manusia, tapi teknologi pada umumnya akan menyatukan manusia."

Editor: Ahmad Sabran
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved