Makna Sarung Bagi Suku Tengger
Suku Tengger punya kaitan tersendiri dengan sarung. Sehari-hari mereka mengenakan sarung tak hanya sebagai pelindung tapi juga simbol status.
Penggunaan sarung oleh Suku Tengger sendiri memiliki ragam variasi tersendiri. Penggunaan tersebut berdasarkan aktivitas dan jenis kelamin.
"Ada yang namanya bentuk Lampin. Itu dipakai seorang lelaki ketika bekerja keras. Kemudian ada jenis bekerja tapi mengandalkan keberanian atau keamanan. Sarungnya sama tapi makna beda. Ada untuk waktu santai. Misalnya sudah pulang kerja dan di rumah. Ada yang aktivitas yang tak terlalu berat. Ada yang bentuknya melindungi kabut yang turun ke punggung," jelas Budiyanto.
Penggunaan sarung oleh perempuan Suku Tengger juga memiliki penandaan status.
Ada yang menandakan perempuan lajang, menikah, juga janda.
"Perempuan ada seperti digunakan di kiri dan kanan bahu. Kekaweng simpulnya. Ada biasa dipakai perempuan yang sudah berkeluarga. Ada yang simpul di kanan, dipakai perempuan yang belum menikah tapi sudah pacar," ujarnya.
Penggunaan sarung oleh suku Tengger saat ini terus digunakan baik pada aktivitas sehari-hari maupun upacara adat.
Menurutnya, bila seorang suku Tengger tak menggunakan sarung maka akan menjadi bahan pergunjingan.
"Dulu penggunaan sarung lebih ke fungsi. Tak ada aturan itu yang melarang gak pakai sarung. Keluar wilayah Tengger gak pake sarung gak apa-apa. Seperti kebiasaan merokok, tak merokok tak enak. Saya pun sama. Ketika kemana-mana gak pake sarung, itu kelihatan gak pantas. Kalau pakai sarung kan bisa gaya macam-macam. Seperti pelampiasan saja," jawabnya sambil tertawa dan mencontohkan memakai sarung.
"Sampai sekarang akhirnya adat bikin peraturan yang tak tertulis kalau ada acara adat itu wajib pakai ikat kepala dan sarung itu sudah. Kalau gak pakai sarung tetep diperbincangkan," tambah Budiyanto.
Budaya memakai sarung ini sendiri ada sejak Suku Tengger hadir.
Budiyanto mengatakan zaman dahulu bukan sarung yang digunakan oleh Suku Tengger melainkan hanya kain.
Saat ini, budaya memakai sarung tetap dilestarikan di Desa Argosari. Salah satunya dengan cara mengajarkan kebiasaan menggunakan sarung.
"Misalnya punya anak, otomatis saya belikan sarung walaupun masih kecil. Sampai saya pesan ukuran yang kecil. Jadi gak melalui kata-kata mengajarkan memakai sarung. Lewat kebiasaan langsung," ujarnya.
Desa Argosari sendiri adalah salah satu tempat tinggal masyarakat Suku Tengger. Tempat Suku Tengger bermukim lainnya antara lain Probolinggo dan Pasuruan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/sarung_20170515_205236.jpg)