Minggu, 3 Mei 2026

Tragedi Pendakian Gunung Prau Tinggalkan Duka

Tragedi pendakian Gunung Prau meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban. Mereka yang meninggal tergolong baru berkeluarga.

Tayang:
Penulis: Feryanto Hadi |
Keluarga pendaki yang berduka. 

WARTA KOTA, DUREN SAWIT-Canda tawa Lilis Sulistyawati bersama sang suami, Ady Setyawan, pada Jumat (21/4) lalu rupanya menjadi momentum kebahagiaan terakhir bagi pasangan itu sebelum keduanya berpisah untuk selama-lamanya.

Saat itu sang suami berpamitan hendak melakukan pendakian ke Gunung Prau di Wonosobo, Jawa Tengah. Jumat malam, suaminya bersama 10 sahabatnya berangkat.

Suaminya pun kembali pada Senin (24/4) pagi. Hanya saja, kondisi suami sudah dalam keadaan meninggal dunia.

Rentetan kejadian yang begitu cepat dan mengejutkan ini dirasakan Lilis bagai seperti sebuah mimpi.

Bahkan, hingga proses pemakaman suamimya, Wawan, di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Wakaf Gotong Royong Cipinang Muara, Jakarta Timur, pada Senin siang, Lilis masih tampak terpukul.

Matanya masih lebam akibat menangis seharian. Badannya lemas. Hati Lilis luluh lantak mendapat ujian berat ini.

"Tidak ada yang berpikir dia akan kembali dalam keadaan seperti itu," ucap Lilis, lirih, saat memulai perbincangan dengan Warta Kota di kediamannya Jalan Cipinang Muara II, Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Lilis bilang ia tidak punya firasat buruk ketika Wawan berpamitan pada Jumat petang. Hanya saja, anak semata wayang mereka yang berusia 2,5 tahun, Muhammad Elang Ghifari, sempat rewel dan meminta ayahnya agar jangan pergi.

"Pada saat pamitan suami saya bawa ransel. Anak saya bilang 'yah, jangan sekolah'. Maksud anak saya dikira suami saya sekolah karena bawa tas. Dia juga nangis saat ayahnya pergi. Bahkan Elang sampai sakit," jelasnya.

Pada keesokan harinya, Sabtu pagi, Lilis masih melalukan komunikasi dengan sang suami. "Dia bilang jam setengah sembilan pagi baru sampai Purbalingga karena bus yang ditumpangi mogok. Itu komunikasi terakhir kami. Setelah itu handphone-nya tidak bisa dihubungi," kata Lilis.

Pada Minggu petang, keluarga Lilis mendapat kabar dari rekan Wawan yang sama-sama naik gunung. Kabar itu menyebutkan bahwa rombongan pendaki yang diikuti Wawan terkena musibah di Gunung Prau.

"Mereka bilang rombongan suami saya kesamber petir. Awalnya saya nggak begitu percaya. Tapi pada malam harinya ada info lagi suami saya ditemukan meninggal dunia," terang Lilis.

Lilis langsung ambrug mendengar kabar itu. Dadanya seperti dihantam dengan benda dengan keras, sangat sesak. Semalaman ia menangis.

Tangisannya makin pecah ketika pada Senin pagi mobil ambulance yang membawa jasad suaminya tiba di rumah duka. Ia tak kuasa melihat kondisi jenazah suaminya.

Hingga Senin siang usai jenazah Wawan dimakamkan pun tangisannya masih belum berhenti.

"Ini sudah takdirnya begini. Saya pasrah saja," kata Lilis yang dinikahi Wawan sejal 2012 lalu.

Ratusan kerabat sejak Senin pagi sudah datang ke rumah duka. Hampir semua anggota keluarga Wawan shock.

Ayah Wawan yang bernama Jaiman Santoso (58) lebih banyak termangu meratapi kepergian anak sulungnya. Sementara, istri Paiman, Sutarmi (50), kerap menangis setiap ada kerabatnya datang dan mengucapkan bela sungkawa.

Pemandangan hampir sama juga terlihat di rumah duka korban bernama Aditya Agung Darmawan di Rumah Susun Guru Cipinang Muara yang jaraknya tak jauh dengan kediaman Wawan.

Ratusan orang berkumpul di lantai dasar rumah susun untuk berbelasungkawa atas meninggalnya pegawai Pegadaian Cabang Citayam itu.

Aditya, yang juga meninggal dalam pendakian itu, meninggalkan seorang istri cantik bernama Siti Nuraini.

"Mereka baru delapan bulan menikah," kata Helmawati (60), ibu dari Adit. I

a bilang sebelumnya sudah mengingatkan Adit supaya tidak naik gunung.

"Saya bilang ke dia, buat apa naik gunung. Kalau dulu masih bujangan boleh saja, kalau sekarang kan sudah nikah. Tapi ya namanya hobi, dia tetap berangkat sama rombongan kawannya," imbuhnya.

Hingga pada Minggu petang keluarga itu mendapat kabar yang mengejutkan mengenai peristiwa mengerikan yang dialami Adit dan rombongan di atas Gunung Prau.

"Saat dapat info awal pada Minggu jam setengah empat sore, masih simpang siur. Kami positif thinking kalau Adit korban yang selamat. Tapi malamnya kami dapat kabar Adit salah satu korban yang meninggal dunia," jelasnya.

Badai petir

Sebanyak 11 orang pendaki asal Jakarta dilaporkan menghadapi musibah saat rombongan hendak turun dari puncak Gunung Prau, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

Humas Kantor Basarnas Jateng Zulhawari Agustianto menyatakan, rombongan yang berangkat sejak Jumat Sabtu itu tengah turun dari puncak pada Minggu pagi sekitar pukul 10.00.

Namun, di tengah perjalanan, hujan turun dengan sangat deras disertai gempuran petir.

Mereka kemudian memutuskan untuk berteduh dengan membuat tempat berlindung sementara secara darurat (bivak). Bivak untuk berteduh dibuat di sekitar tower Nganjil.

"Namun, saat berteduh sebagian pendaki bermain handpone. Saat itu langsung tersambar petir," kata Zulhawari, Senin (25/4/2017).

Dari 11 rombongan pendaki asal Jakarta, tiga diantaranya tewas.

Mereka yang tewas adalah Deden Hidayat (30), warga Jalan Benuang VI No 44 Kelurahan Bakti Jaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok, Jawa Barat. Kemudian, Aditya Agung D (29), warga Jalan Cipinang Muara II Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur; dan Adi Setiawan (30), warga Jalan Cipinang Muara II Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur.

Sementara delapan sisanya mendapat luka bakar, luka ringan, dan salah satu pendaki mengalami shock.

Maulana Affandi, Staf Humas Kantor Basarnas Jateng menambahkan, sebelum hujan, para pendaki sempat melakukan foto bersama dengan menaiki tower tersebut.

Sebagian pendaki yang tidak puas berfoto di tower, lalu menaiki sebuah pohon.

"Pendaki yang naik di pohon tersambar petir lalu jatuh ke bawah," tambah Affandi. Usai kejadian itu, tiga orang anggota rombongan berusaha turun ke pos pendakian untuk meminta bantuan.

Korban lainnya kemudian dievakuasi oleh tim SAR bersama polisi dan masyarakat dari puncak gunung pada Minggu malam.

Para korban selamat yang terdapat luka bakar lalu dibawa ke Rumah Sakit Daerah Wonosobo

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved