Polisi Lubuklinggau Penembak Satu Keluarga Jadi Tersangka, Sanksi Pemecatan Menanti

Kapolda juga mengatakan, Brigadir K mengaku hanya ingin menghentikan mobil tersebut.

TRIBUNSUMSEL.COM/EKO HEPRONIS
Satu keluarga nyaris tewas akibat ditembak polisi, lantaran diduga nekat menerobos razia petugas Mapolres Lubuklinggau, Selasa (18/7/2018) sekitar pukul 11.30 WIB. 

WARTA KOTA, PALEMBANG - Kapolda Sumatera Selatan Irjen Agung Budi Maryoto mengatakan, setelah melakukan serangkaian pemeriksaan termasuk gelar perkara, pihaknya menetapkan Brigadir K sebagai tersangka.

"Dari hasil pemeriksaan dan gelar perkara yang dilakukan Tim Ditreskrimum, Propam, dan Irwasda, Brigadir Polisi K akhirnya dinyatakan sebagai tersangka dalam kasus ini," ungkapnya saat jumpa pers bersama awak media di RS Bhayangkara Polda Sumsel, Jumat (21/4/2017).

Setelah dinyatakan sebagai tersangka, lanjut Kapolda, Brigadir K yang merupakan anggota Sabhara Mapolres Lubuklinggau, langsung ditahan di Polda Sumsel.

Baca: Sopir yang Mobilnya Ditembaki Polisi Kabur karena Tak Punya SIM dan Pakai Pelat Nomor Palsu

"Brigadir Polisi K dikenakan pasal 359 jo 360 KUHP dengan ancaman di atas lima tahun kurungan penjara. Proses hukumnya seperti hukum pidana umum lainnya, dan secepatnya akan kita limpahkan," imbuhnya.

Sedangkan saat disinggung terkait sanksi pemecatan atau pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH), Kapolda Sumsel mengatakan hal tersebut bisa saja dilakukan, namun semua masih menunggu keputusan hakim.

"Pemecatan itu bisa saja dilakukan karena pasal 359 itu hukumnya lima tahun kurungan penjara. Dan sesuai dengan Peraturan Kapolri, bagi anggota yang dihukum penjara lebih dari empat tahun itu bisa di-PTDH," jelasnya.

Baca: Prosedur Razia di Lubuklinggau Sudah Benar, Salahnya Ada Penembakan Tanpa Perintah

Kapolda juga mengatakan, Brigadir K mengaku hanya ingin menghentikan mobil tersebut, yang berujung pada penembakan langsung pasca-tidak dihiraukannya tembakan peringatan. Dan dari unsur korban penembakkan pun ada kesalahan tidak mau berhenti dan menolak kooperatif.

"Diki (30), sopir sedan tersebut menurut saksi korban, S, sudah diingatkan untuk berhenti, tapi masih tidak mau berhenti setelah diduga takut tidak memiliki SIM dan pelat mobil tersebut palsu. Terkait itu, sekarang kita masih menyelidiki keabsahan kepemilikan mobil tersebut," tuturnya.

Halaman
12
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved