Kenapa Harus Tinggalkan Kebiasaan Minum Susu Kalau Manfaat yang Didapat Lebih Besar

Sejak bayi hingga lansia, kandungan susu yang lengkap, membuat susu menjadi pelengkap asupan gizi sehari-hari untuk memastikan gizi cukup.

Penulis: | Editor: Dian Anditya Mutiara
istimewa
Kebiasaan baik termasuk minum susu harus dimulai dari rumah. Bila selama ini, kebiasaan itu ditinggalkan dengan aneka alasan. Tidak ada kata terlambat untuk memulainya 

WARTA KOTA -- Tidak sedikit yang beranggapan, susu hanya dibutuhkan saat bayi dan anak-anak saja. Padahal susu dibutuhkan untuk melengkapi asupan gizi disegala usia.

Sejak bayi hingga lansia, kandungan susu yang lengkap, membuat susu menjadi pelengkap asupan gizi sehari-hari untuk memastikan gizi cukup.

“Masyarakat umumnya beranggapan susu hanya untuk anak. Padahal remaja, dan dewasa juga memerlukan susu. Bagi remaja dan dewasa, minum susu secara rutin bermanfaat bagi kekuatan tulang dan kesehatan, karena susu menyediakan sebagian kebutuhan gizi harian seperti kalsium, dan vitamin D yang penting bagi kekuatan tulang dan hidup aktif di masa tua,” kata Ahli Gizi dan Ketua Umum Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan Indonesia (Pergizi Pangan) Prof. Dr Hardinsyah MS kepada media dalam acara Frisian Flag Indonesia luncurkan kampanye ‘Saatnya Keluarga Minum Susu Sekarang’  di Kuningan Suites belum lama ini.

Setelah bayi menyelesaikan masa minum ASI selama dua tahun, untuk melengkapi kebutuhan hariannya, anak diberikan susu pertumbuhan.

Terlebih balita menjadi masa pertumbuhan yang penting sebagai periode emas. Kekurangan gizi di masa periode emas, akan sulit untuk mengembalikan ketertinggalan tersebut. Khususnya perkembangan otak.

Berbeda dengan pertumbuhan fisik yang punya kesempatan kedua. Bila ada kekurangan di periode emas tersebut, terdapat kesempatan kedua sebelum masa pubertas.

Sama seperti periode emas, masa pertumbuhan tersebut memasuki masa cepat tumbuh (growth spurt).

Bila kekurangan gizi di kesempatan pertama dan kedua tersebut, fisiknya akan tertinggal alias pendek. Padahal, banyak kesempatan dan profesi yang menuntut fisik yang tinggi.

Sayangnya, Indonesia bukan bangsa peminum susu. Dibandingkan negara-negara lain, konsumsi susu perkapita Indonesia sangat rendah. Belanda konsumsi susu mencapai 320 liter/kapita. Amerika mencapai 253 liter/kapita.

Malaysia sudah mencapai 36 liter/kapita, dan Thaiand 22 liter/kapita. Sedangkan Indonesia hanya 11 liter/kapita.

Bukan kebetulan bila rendahnya konsumsi susu berbanding lurus dengan rendahnya tinggi badan. Anak-anak Indonesia penyumbang terbesar anak-anak stunting (pendek) yang kelak dewasanya juga stunting. Ada sekitar 35 persen anak-anak Indonesia pendek.

Bagian Budaya dan Agama

Prof Hardinsyah mengatakan, minum susu menjadi bagian dari nilai budaya dan agama. Ribuan tahun bahkan sebelum masehi, manusia telah minum susu.

Domestikasi kerbau dikenal pertama kali di Mesopotamia sekitar 5000 SM. Di Indonesia tidak ada catatan tersendiri tentang kapan pertama kali orang Indonesia minum susu.

Namun di Sumatera Barat bahkan sudah dikenal fermentasi susu kerbau, yakni Dadih serta camilan berbahan susu secara turun temurun hingga kini.

Bahkan agama Islam, tidak hanya mencantumkan susu, tapi juga faedah dari susu di kitab suci AlQuran, QS Al Mu’minum 23:21 dan QS An Nahl 16:66. Barulah ketika ilmu kedokteran berkembang, memastikan benar manfaat dari susu di segala usia.

Air Susu Ibu terbaik sebagai makanan pertama dan utama bagi bayi. Terutama di 6 bulan pertama kehidupan. Namun, setelah 6 bulan, ASI tidak lagi cukup mementuhi kebutuhan harus ditambahkan makanan tambahan. Walaupun ASI bisa diteruskan hingga 2 tahun. Terutama kandungan zat besi yang tidak lagi mencukupi. Padahal zat besi dibutuhkan untuk mengantarkan oksigen ke seluruh tubuh.

Menurut Prof Hardinsyah, susu salah satu minuman yang cocok untuk difortifikasi serta beragam cara penyajian dan melengkapi kebutuhan gizi.

Dalam segelas susu (200 ml) mengandung 150 kilo kalori, 6,8 gram protein, 7.2 gram lemak, 250 gram kalsium, dan berbagai vitamin serta mineral.

Segelas susu yang difortifikasi dapat memenuhi sampai seperlima (20 persen) kebutuhan vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh untuk hidup sehat.

Terlebih dari Riset Kesehatan Dasar 2010, tingkat konsumsi gizi mikro anak Indonesia (1-7 tahun) masih kurang. Zat besi saja baru terpenuhi sekitar 60 persen, begitu juga folat, vitamin C, kalsium, vitamin B12 bahkan kurang dari 20 persen. Zat-zat mikro ini penting untuk tumbuh kembang anak. Terutama pertumbuhan tinggi badan.

Penelitian yang dilakukan Leighton and Clark, anak y ang menerima suplementasi whole milk selama 7 bulan, tinggi badan mereka lebih tinggi dibanding kontrol atau suplemen biscuit (isokalori).

Halaman
Sumber: Warta Kota
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved