Breaking News:

Dampak Kenaikan Upah, Perusahaan Garmen di Bekasi Nyaris Bangkrut

Sebuah perusahaan garmen di Kota Bekasi nyaris bangkrut, pasca empat bulan pemerintah menaikan UMK dari Rp 3,3 juta menjadi Rp 3,6 juta per bulan.

istimewa
Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) akan kembali bergairah dengan sejumlah kemudahan yang akan diberikan oleh pemerintah pada 2017, mulai dari tarif listrik sampai bahan baku. 

WARTA KOTA, BEKASI -- Sebuah perusahaan garmen di Kota Bekasi nyaris bangkrut, pasca empat bulan pemerintah menaikan Upah Minimum Kota (UMK) dari Rp 3,3 juta menjadi Rp 3,6 juta per bulan.

Perekonomiannya juga terpuruk karena tidak mampu bersaing dengan perusahaan lainnya.

"Pendataan kami, baru satu perusahaan yang melaporkan diri bahwa keuangannya mulai terpuruk," kata Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Jamsostek pada Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Bekasi, Cecep Miftah pada Minggu (9/4).

Cecep menjelaskan, perusahaan tersebut berdomisili di daerah Bantargebang, Kota Bekasi.

Sejak awal bulan April, mereka telah melaporkan diri tentang ketidaksanggupannya dalam berinvestasi di Kota Bekasi.

Karena itu, besar kemungkinan mereka akan gulung tikar dan pindah berinvestasi ke daerah lain seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur.

"Pertimbangan mereka pindah ke sana karena besaran UMK lebih rendah dari Kota Bekasi," jelas Cecep.

Meski demikian, Cecep membantah bahwa pemicu utama perusahaan itu tidak berkembang karena naiknya UMK sebesar Rp 300.000.

Menurut dia, kenaikan UMK telah melalui pembahasan yang matang antara serikat pekerja, dewan pengupahan, pengusaha dan pemerintah, sehingga kenaikan itu telah disetujui oleh seluruh pihak.

Dia menilai, faktor utamanya adalah ketatnya persaingan usaha dan tingginya biaya produksi yang tidak sejalan dengan pendapatan.

Halaman
123
Penulis: Fitriyandi Al Fajri
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved