Riset: Polusi Udara Bisa Membunuh 75 Persen Sel Sperma

Sebuah penelitian menyebutkan terpapar polusi udara secara berkala selama tiga bulan berturut-turut bisa menyebabkan matinya 75 persen sel sperma.

ANTARA FOTO/Rosa Panggabean
Asap Terburuk. Pengendara melintas di Jalan Tjilik Riwut, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Minggu (4/10/2015). Asap kebakaran hutan Indonesia yang menyelimuti Asia Tenggara diperkirakan menjadi krisis polusi udara terburuk sepanjang sejarah. 

WARTA KOTA, JAKARTA - Sebuah penelitian menyebutkan terpapar polusi udara perkotaan secara berkala selama tiga bulan berturut-turut bisa menyebabkan matinya 75 persen sel sperma, kata seorang dokter kandungan.

Direktur Medik dan Keperawatan Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita Dr dr Didi Danukusumo Sp.OG di Jakarta, Sabtu menyebutkan, penelitian yang pernah dilakukan menunjukkan menghirup karbon monoksida bisa mematikan sel sperma.

"Kami ada penelitian dulu, polisi yang mengatur lalu lintas di perempatan terpapar karbon monoksida dalam tiga bulan, 75 persen spermanya mati. Makanya sekarang polisi pakai masker," kata Didi.

Selain karena polusi udara, matinya sel sperma juga bisa terjadi akibat kondisi yang terpapar panas berlebih pada testis.

Didi mencontohkan, kondisi testis dengan suhu tinggi bisa disebabkan oleh pemakaian celana berlapis-lapis, mengendarai kendaraan dengan paparan panas pada testis, atau kondisi saat memasak yang terpapar panas dari kompor.

"Laki-laki yang suka masak, testisnya terpapar panas kompor, spermanya kena kompor itu bisa menyebabkan kelainan, jadi kelainan bawaan pada bayi," tutur Didi.

Dia menekankan, kondisi sulit hamil tidak hanya karena faktor kelainan dari wanita itu sendiri, namun juga ada faktor kelainan dari laki-laki.

"Yang salah bukan hanya wanita saja," tegas Didi.

Didi menjelaskan, persentase tidak terjadinya kehamilan 40 persen berasal dari wanita, 40 persen dari pria, dan 20 persen sisanya faktor bersama.

Kualitas, bentuk, dan gerakan sperma, kata Didi, juga sangat mempengaruhi dalam terjadinya pembuahan.

Adapun faktor dari perempuan ialah faktor organik seperti ada saluran telur yang buntu, ada benjolan di rahim berupa kista atau myom yang menyebabkan keguguran terus menerus, faktor indung telur yang tidak matang, dan kemungkinan perjalanan sperma terganggu karena muara rahim buntu.

"Wanita dan laki-laki umur 25-35 tahun yang berhubungan intim seminggu tiga kali, 90 persen akan hamil pada tahun pertama. Ada 10 persen lainnya yang belum beruntung," jelas Didi. (Antara)

Editor: Hertanto Soebijoto
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved