Setahun Lebih 'Digantung' KPK, RJ Lino: I Enjoy My Life

RJ Lino kini mengaku malah lebih bebas berkomunikasi dengan siapa saja, apalagi dia telah diberhentikan dari perusahaan pelat merah itu.

WARTA KOTA/HENRY LOPULALAN
Mantan Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II Richard Joost (RJ) Lino berada di ruang tunggu, untuk menjalani pemeriksaan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (5/2/2016). RJ Lino diperiksa sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan Quay Container Crane di PT Pelindo II. 

WARTA KOTA, KEMAYORAN - Dijadikan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lebih dari satu tahun, tidak menjadi masalah besar bagi bekas Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) Richard Joost (RJ) Lino.

RJ Lino kini mengaku malah lebih bebas berkomunikasi dengan siapa saja, apalagi dia telah diberhentikan dari perusahaan pelat merah itu.

"Enggak. Saya enggak merasa terganggu. Malah sekarang saya ditelepon siapa aja bisa diterima," kata Lino usai menjadi saksi di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu (23/3/2017).

Menyandang status tersangka tidak menghentikan langkah Lino. Lino mengaku kini memiliki banyak kesibukan di kampung halamannya. Lino merasa tidak perlu merasa malu dituduh telah berbuat pidana.

"Sibuk di kampung saya, kan. Saya enggak malu ketemu anda. Lihat tadi saya ngomong blak-blakan," tuturnya.

RJ Lino tidak menjawab spesifik mengenai penanganan kasusnya di KPK. Lino hanya mengatakan dia kini menikmati hidup.

"I enjoy my life," ucapnya.

RJ Lino kemarin menjadi saksi untuk terdakwa Senior Manager Peralatan PT Pelindo ll Haryadi Budi Kuncoro. Dia ditetapkan jadi tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan 10 unit mobile crane oleh Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri.

RJ Lino menyatakan siap mengikuti proses hukum di KPK, terkait status tersangkanya dalam kasus  pengadaan Quay Container Crane di Pelindo.

"Saya ngikut aja, saya warga negara yang baik," imbuhnya.

Selama menjabat sebagai direktur utama PT Pelindo II, Lino mengaku sudah berbuat yang terbaik. Kata Lino, saat dia masuk di Pelindo, aset BUMN tersebut hanya Rp 6,5 triliun, dan saat dia keluar (karena kasus korupsi), mencapai Rp 45 triiun.

"I do my best for my country. Kalian lihat di mana saya masuk ya, aset Pelindo itu hanya Rp 6,5 triliun. Saya berhenti Rp 45 triliun. Coba, enam kali lebih punya uang di bank Rp 16 triliun cash. Kerugian negara enggak ada," paparnya.

RJ Lino adalah tersangka dugaan korupsi pengadaan tiga unit Quay Container Crane (QCC) di Pelindo II pada 2010. Dia diumumkan menjadi tersangka pada 18 Desember 2015, dan baru satu kali diperiksa setelah jadi tersangka, pada 5 Februari 2016.

Hingga kini, RJ Lino belum ditahan KPK. Lino jadi pesakitan lantaran menunjuk langsung perusahaan asal Tiongkok, Wuxi Huang Dong Heavy Machinery, dalam pengadaan QCC.

Lino diduga merugikan keuangan negara sekitar Rp 32,6 miliar. Lino dijerat pasal 2 ayat 1 dan atau pasal 3 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999, sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto pasal 55 ayat 1 ke-1 KUH Pidana. (*)

Penulis:
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved