Keluarga Ikhlaskan Kepergian Patmi Petani yang Mengecor Kaki

Mereka mengetahui bahwa Bu Patmi pergi ke Jakarta untuk memperjuangkan nasib anak cucunya demi daerah yang dicintainya.

Keluarga Ikhlaskan Kepergian Patmi Petani yang Mengecor Kaki
Warta Kota/Rangga Baskoro
Kepergian wanita pejuang, Patmi yang sudah diikhlaskan keluarganya. 

WARTA KOTA, MENTENG -- Jenazah Patmi (45) peserta aksi unjuk rasa #DipasungSemen2 telah disemayamkan di kampung halamannya yang terletak di Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Perwakilan dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang, Ivan menyatakan bahwa ketika pihak keluarga mendengar meninggalnya Patmi pada Selasa (21/3) dini hari lalu.

Mereka mengikhlaskan kepergian Patmi ke pangkuan Yang Kuasa.

"Keluarga ikhlas. Mereka mengetahui bahwa Bu Patmi pergi ke Jakarta untuk memperjuangkan nasib anak cucunya demi daerah yang dicintainya. Mereka bangga dengan yang dilakukan beliau (Patmi)," kata Ivan di Gedung LBH Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (21/3) malam.

Ivan menceritakan, Patmi mendatangi Jakarta pada hari Rabu (15/3) lalu bersama 20 orang petani asal Pegunungan Kendeng.

Suami Patmi tidak ikut serta karena bekerja di Kalimantan, ia hanya ditemani oleh adiknya yang juga seorang petani.

Akomodasi Patmi bersama petani-petani lain berasal dari patungan peserta aksi yang hendak berangkat.

Sehari berselang, Patmi memutuskan untuk mengikuti jejak teman-temannya yang lebih dulu mengecor kakinya sendiri sejak Senin (13/3/2017) lalu.

"Beliau sendiri yang menginginkan untuk mengecor kakinya. Dia sosok yang sederhana, tapi selalu tegas dalam komentar-komentarnya. Selalu ingin berjuang mempertahankan hak-haknya," ujarnya.

Semasa berada di LBH Jakarta dengan kondisi kaki yang disemen, Patmi bersama peserta aksi yang lain dibantu oleh aktivis-aktivis untuk beraktivitas.

Sejumlah petani yang berasal dari Pegunungan Kendeng melakukan aksi mencor kakinya sendiri di depan Istana di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (20/3).
Sejumlah petani yang berasal dari Pegunungan Kendeng melakukan aksi mencor kakinya sendiri di depan Istana di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (20/3). (Rangga Baskoro)

Beratnya semen yang membelenggu kaki mereka menjadikan peserta aksi kesulitan untuk melakukan pekerjaan tanpa bantuan orang lain.

"Itu kan kondisi berat sekali kakinya. Kami membantu mereka menyediakan kebutuhan-kebutuhan. Bahkan menentukan posisi tidur pun harus dibantu," ucap Ivan.

Kini Patmi telah tiada. Kepergiannya tidak serta merta menyurutkan semangat aktivis-aktivis untuk meneruskan perjuangan 50 petani Kendeng yang sudah pulang ke kampung halaman.

Mereka sepakat untuk tetap melanjutkan aksi yang sama hingga permintaan petani yang menginginkan dicabutnya izin pengoperasian pabrik semen dikabulkan. (Rangga Baskoro)

Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved