Pengemudi Ojek Online Harapkan Mediasi dari Pemerintah
Sekarang, serba online. Sopir angkot bilang omset menurun, tapi tak bisa juga menyalahkan driver.
WARTA KOTA, SENEN -- Sejak kehadiran sarana transportasi berbasis online di Indonesia, banyak terjadi pro dan kontra terkait persaingan harga yang dinilai tidak sehat.
Kehadiran transportasi daring yang marak sejak tahun 2015 ditanggapi oleh sejumlah aksi unjuk rasa yang dilakulan oleh pengemudi taksi dan angkot di sejumlah daerah.
Mereka menganggap, sejak diaplikasikan di sejumlah kota besar, penghasilan mereka semakin menurun.
Tak jarang pula aksi yang mereka lakukan diwarnai dengan tindakan yang anarkis seperti yang terjadi baru-baru ini di kawasan Tangcity Mall, Cikokol, Tangerang pada Rabu (8/3/2017) silam.
Sopir angkot berinisial SBH menabrak pengemudi ojeg online lantaran kesal terhadap kehadiran transportasi online di daerah Tangerang.
Menanggapi hal tersebut, Rusdi (31) seorang pengemudi ojeg online menyatakan, arus globalisasi menawarkan masyarakat untuk melakukan mobilisasi secara lebih cepat.
Karena itu, transportasi daring saat ini lebih disukai oleh masyarakat.
"Sekarang, serba online. Mereka (sopir angkot) bilang omset menurun, tapi gak bisa juga nyalahin driver. Karena ada perusahaan yang menaungi kami," ucap Rusdi saat ditemui di kawasan Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (10/3/2017).
Ia menilai diperlukan upaya dari pemerintah untuk mempertemukan antara pihak pengusaha transportasi daring dengan transportasi umum agar masalah yang sama tidak terulang.
Senada dengan Rusdi, ayah Jamil, seorang pengemudi ojeg online yang bernama Ichsan (51) mengharapkan mediasi bisa secepatnya dilakukan.
Selain itu, perbaikan sarana transportasi umum juga dikatakan olehnya harus diperbaiki guna mendongkrak penghasilan.
"Saya harapkan agar pemerintah kota bisa berembuk bersama-sama pengusaha angkot dan transportasi online. Tentunya hal itu juga harus didorong dengan perbaikan di internal. Misalnya memperbagus fasilitas," ujar Ichsan di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat.
Sedangkan Amar (30), pengemudi angkot M46 jurusan Pulogadung-Senen menyatakan, persaingan harga yang tidak sehat harus ditanggapi dengan serius sebelum masalah tersebut menyebabkan banyak kerugian bagj kedua belah pihak.
"Ini kan masalah perut. Penghasilan kami jadi menurun, itulah faktanya. Terjadi sejak ada transportasi online. Kalau bisa ada kebijakan yang bisa menghidupkan kami (sopir angkot) juga lah," tutur Amar di sekitar Stasiun Senen. (Rangga Baskoro)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/sadis_20170310_172319.jpg)