Terminal Rawamangun Bagai Pangeran yang Tercampakkan
Sejak kepindahan seluruh bus antarprovinsi ke Terminal Terpadu Pulogebang, Terminal Rawamangun langsung senyap.
Penulis: Feryanto Hadi |
WARTA KOTA, RAWAMANGUN -- Baru sekitar satu tahun Terminal Rawamangun direvitalisasi menjadi sebuah terminal yang 'gagah'.
Bangunan terminal mengusung arsitektur klasik khas eropa dengan cat putih tulangnya.
Seabrek fasilitas modern pun telah disiapkan, misalnya tangga berjalan, ruang tunggu berpendingin udara dan modern.
Namun sejak kepindahan seluruh bus antarprovinsi ke Terminal Terpadu Pulogebang, Terminal Rawamangun langsung senyap.
Tidak banyak aktifitas yang tampak di sana.
Hanya segelintir penumpang yang masih membeli tiket di terminal itu untuk kemudian akan diantarkan oleh pihak Perusahaan Otobus ke Terminal Pulogebang.
"Setiap hari masih ada puluhan orang yang beli tiket di sini. Nanti kami antarkan ke Terminal Pulogebang untuk pemberangkatannya," kata Apri (21), petugas dari PO Laju Prima, Jumat.
Sedianya Terminal Rawamangun memang sebagai terminal dalam kota.
Namun, tidak ada satu pun angkutan perkotaan yang masuk ke dalam kawasan terminal.
Bastian, Kepala Terminal Rawamangun bilang, pihaknya sulit memaksa angkutan perkotaan beroperasi di dalam terminal.
"Mau masuk bagaimana, terminalnya juga tidak ada orangnya (penumpang). Yang ada nanti malah pada ribut (sopir angkot)," kata Bastian.
Bastian mengaku saat ini ia pun belum tahu bagaimana nasib terminal itu ke depannya.
"Saya belum dapat arahan bagaimana nanti terminal ini. Saat ini saya hanya jalankan tugas sesuai tupoksi. Sementara sebagian pegawai terminal (dari dishub) membantu atur lalu lintas di depan terminal," terang Bastian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/terminal-rawamangun_20161010_162609.jpg)