Peranan Humas untuk Penyampaian Pesan Tanpa Memberikan Opini

Humas seperti juga pers, hanya menyampaikan fakta-fakta dan data tanpa memberikan argumen.

Peranan Humas untuk Penyampaian Pesan Tanpa Memberikan Opini
Warta Kota
Acara seminar Peranan Humas dalam menyukseskan pilkada serentak damai. 
WARTA KOTA, JAGAKARSA -- Sejumlah kalangan menilai, humas seharusnya tidak pernah memberikan argumen di saat menyampaikan pesan kepada masyarakat atau kepada pers.
"Humas harus berperan sebagai pihak yang menyampaikan fakta, tidak memberikan argue, not to argue," kata staf ahli Menteri Komunikasi dan Informatika, Prof Dr Henry Subiakto‎ dalam Studium Generale dan Seminar tentang peranan humas dalam pilkada serentak, yang diselenggarakan di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila, Jakarta, Selasa (28/2/2017).
Henry menyatakan, humas seperti juga pers, hanya menyampaikan fakta-fakta dan data tanpa memberikan argumen.
"Kalau memberikan argumen, jadi politisi atau anggota DPR saja," katanya.
Pembicara yang tampil adalah dekan dan Guru Besar Fikom Universitas Pancasila Prof Andi Faisal Bakti MA PhD, Guru Besar Komunikasi Unair Prof Dr Henry Subiakto, Komisioner Komisi Penyiaran Informasi Mayong Suryo Laksono, dan moderator Gede Moenanto Soekowati MIKom.
Henry menjelaskan, humas seharusnya bisa memberikan pemaknaan terkait pesan-pesan yang sebaiknya disampaikan kepada publik agar menjadi jelas, sehingga tidak terjadi salah paham.‎
Selain itu, mahasiswa sebagai kalangan terpelajar harus mengerti dan mengetahui berita hoax atau bukan.
"Hal itu untuk mencegah penyebaran hoax yang massif melalui media sosial sebab kecenderungan saat ini masyarakat, tanpa berpikir panjang menyebar berita hoax tersebut," katanya.‎
Baik dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) dan pilpres, ungkap Henry, umumnya bermunculan media abal-abal, akun anonim dan buzzer serta hoax.
Isi beritanya bermacam-macam, biasanya menyudutkan atau mendukung pasangan tertentu.
"Ini mencemaskan jika mahasiswa, apalagi mahasiswa Fikom ikut larut menyebarkan berita hoax," ujar Henry.
Masyarakat banyak yang tidak bisa membedakan media abal-abal dan seperti disebutkan di atas.
Saat ini diduga ada 700.000 situs sebarkan hoax, secara konsisten dan terus menerus.
Untuk itu, ungkap Henry, mahasiswa harus tahu tentang hoax dan ciri-cirinya. Yakni, hoax itu pesan atau berita menipu, menciptakan kecemasan/kebencian atau pemujaan berlebihan.
Sumber tidak jelas sehingga tidak bisa dimintai pertanggungjawaban.
Sering mencatut nama tokoh berkredibilitas.
Menggunakan nama mirip dengan media terkenal. Judul dengan isi tidak cocok. Minta supaya dishare atai diviralkan.
"Kalau sudah ada cici seperti itu, diamkan saja di HP atau medsos Anda. Jangan ikut menyebarkan," ujar Henry.
Sementara bagi Andi Faisal, selain hoax, media seharusnya netral dalam pilkada atau pilpres. Sebab media harus menjadi sarana edukasi bagi masyakarat. Juga menjadi sarana klarifikasi (tabayun).
"Media harus mendorong sikap kritis masyarakat. Karena, fungsi media salah satunya yang ialah edukasi," ujar Andi.
Pada bagian lain, Mayong Suryo Laksono menyatakan, pihaknya telah memberikan satu peringatan dan dua teguran kepada media penyiaran yang melanggar aturan.
"Misalnya, televisi yang terlampau banyak menyiarkan lagu mars partai. Atau menyiarkan berita yang tidak berimbang," katanya.
Penulis:
Editor: Gede Moenanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved