Pemkab Bekasi Cari Solusi Terhadap Atap SMAN 1 Muara Gembong Ambruk
Sekolah tersebut direnovasi menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2014.
Penulis: Fitriyandi Al Fajri |
WARTA KOTA, BEKASI -- Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin, mengaku, telah mengecek ambruknya atap SMAN 1 Muara Gembong yang terjadi pada Selasa (28/2/2017) pagi.
Neneng menduga, atap itu ambruk karena tingginya intensitas hujan yang melanda wilayah setempat sejak beberapa hari silam.
Neneng mengatakan, sekolah tersebut direnovasi menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2014, melalui Direktorat Pembinaan SMA pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Tidak hanya itu, tapi dibantu menggunakan dana swadaya dari masyarakat setempat.
Neneng berjanji, dia akan menindaklanjuti kejadian ini termasuk mencari solusi terbaik untuk membangun kembali ruang kelas yang rusak.
"Kita cari solusi terbaik bagaimana membangun kembali ruang kelas yang rusak, karena sekarang, kewenangan SMA dan SMK sudah diambil alih oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat," kata Neneng di Plaza Pemkab Bekasi, Rabu (1/3/2017).
Dua ruang belajar kelas X di SMAN 1 Muaragembong ambruk saat para siswa belajar di kelas.
Akibatnya, dua dari 27 siswa yang ada di kelas mengalami luka bocor di bagian kepala.
Sedangkan 25 orang lagi mengalami syok dan beberapa ada yang keselo akibat tertimpa material yang ambruk.
Oleh petugas, mereka dibawa ke Puskesmas Kecamatan Muara Gembong untuk mendapat pertolongan.
Para siswa yang menjadi korban, Lilis Karlina (16) mendapat tiga jahitan dan Sriyanti (16) dengan empat jahitan. Atas kejadian tersebut, pihak sekolah menyerahkan kasus ini ke polisi.
Sementara itu, Camat Muara Gembong, Fahrurozi menambahkan, kegiatan belajar mengajar di sekolah tetap berlanjut, meski dua ruang ambruk.
Puluhan siswa dari dua kelas itu, untuk sementara bergabung dengan kelas X lainnya dalam kegiatan belajar mengajar.
"Tadi, saya cek, kegiatan belajar terus berjalan. Siswa yang ruangannya ambruk, digabung sementara ke kelas lain," tambahnya.
Dia menyatakan, kegiatan belajar tetap dilaksanakan atas koordinasi dengan instansi terkait.
Sebab, petugas melihat, tingkat kerawanan ambruk susulan sangat kecil. "Di sana kan kelasnya cukup banyak, jadi digabung dulu ke kelas lain," katanya.
Akibat musibah ini, sebanyak 15 siswa yang terlibat dalam musibah itu tidak masuk ke sekolah.
Mereka lebih memilih beristirahat dulu di rumah guna memulihkan fisik dan psikis nya atas insiden tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20170228puluhan-siswa-sman-1-muaragembong-histeris_20170228_172426.jpg)