Guru Pembina SMK di Garut Cabuli Tiga Siswinya, LPAI: Kapan Dikebiri?

Sebab, polisi yang menangani kasus ini diketahui belum menjerat tersangka dengan Perppu Kebiri yang disahkan DPR pada Oktober 2016 lalu.

Penulis: Budi Sam Law Malau | Editor: Yaspen Martinus
Tribunnews.com
Reza Indragiri Amriel 

WARTA KOTA, DEPOK - Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) mempertanyakan penerapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak alias Perppu Kebiri, terhadap para pelaku kejahatan seksual terhadap anak.

Termasuk, kepada guru pembina SMK di Garut, Jawa Barat, yang mencabuli tiga siswinya selama empat tahun terakhir.

Pencabulan yang dilakukan guru pembina kegiatan ekstrakurikuler Patroli Keamanan Sekolah (PKS) di SMK di Garut terhadap tiga siswinya, sudah dilakukan sejak 2013, dan berhasil diungkap Polres Garut. Tersangkanya dibekuk pada Senin (20/2/2017) lalu.

"Kapan akan dikebiri? Kapan hukuman penjara ditambah? Kapan identitas dibuka ke publik? Kapan dipasangi chip? Kapan diwajibkan membayar restitusi?" tutur Ketua Bidang Pemenuhan Hak Anak LPAI Reza Indragiri Amriel kepada Warta Kota, sembari mengutip ketentuan yang tertuang di Perppu Kebiri itu, Rabu (22/2/2017).

Sebab, polisi yang menangani kasus ini diketahui belum menjerat tersangka dengan Perppu Kebiri yang disahkan DPR pada Oktober 2016 lalu.

Polisi menjerat tersangka dengan UU Nomor 35/2014 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

"Kalau aturan sebatas macan kertas, lalu terjadi peradilan jalanan terhadap pelaku, bagamana? Sudahlah. Jika kesalahannya terbukti, hukum mati saja. Eksekusi pada 23 Juli di Hari Anak Nasional," tegas Reza.

Setelah itu, kata dia, korban mesti direhabilitasi psiko-fisik-sosial-spiritual sepanjang hayat oleh negara.

"Untuk sekolah? Akreditasi dicabut, bahkan izin operasional sekolah patut dikaji ulang. Pengelola sekolah? Jika tahu tapi melakukan pengabaian terhadap situasi, mereka kudu dipidana juga," ucap Reza. (*)

Sumber: Warta Kota
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved