Rumah Gembong Narkoba di Pluit Dijadikan Kantor, BNN Tingkatkan Pengawasan Jalur Laut

Menurut Kepala BNN Komjen Budi Waseso, rumah tersebut memudahkan pihaknya untuk mengawasi peredaran narkoba jalur laut.

Rumah Gembong Narkoba di Pluit Dijadikan Kantor, BNN Tingkatkan Pengawasan Jalur Laut
WARTA KOTA/PANJI BASKHARA RAMADHAN
Jaksa Agung M Prasetyo dan Kepala BNN Komjen Budi Waseso 

WARTA KOTA, PENJARINGAN - Badan Narkotika Nasional (BNN) menjadikan sebuah rumah mewah tiga lantai  senilai Rp 20 miliar lebih di RW 16 Kompleks Pantai Mutiara Blok R15, Kelurahan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, sebagai kantor operasional, Senin (20/2/2017).

Rumah mewah menghadap laut itu sempat dihuni oleh Pony Tjandra (47), salah satu bandar narkotika besar yang jaringannya seorang gembong sekaligus terpidana mati kasus narkoba, Freddy Budiman.

Menurut Kepala BNN Komjen Budi Waseso, rumah tersebut memudahkan pihaknya untuk mengawasi peredaran narkoba jalur laut.

"Serah terima rumah mewah di Pluit ini tujuannya semakin meningkatkan deteksi sejak dini peredaran narkoba, lewat jalur laut. Utamanya, dari pelabuhan tidak resmi seperti di kompleks elite yang terletak di kota pesisir ini," ujar pria yang akrab disapa BUwas itu.

Rumah tersebut, lanjutnya, sudah diawasi BNN sejak 2004 silam, karena lokasinya yang sangat strategis dan sebagai jalur keluar masuk narkoba.

"Maka dari itu, kami mengusulkan agar aset ini pun juga tak perlu dilelang. Justru bisa menjadi kantor operasional BNN, kan," imbuhnya.

Kehadiran BNN di kota pesisir, Buwas menegaskan, dapat menekan masuknya narkotika, terutama dari Teluk Jakarta.

"Baik yang memanfaatkan pelabuhan perikanan, atau juga dermaga kecil di permukiman elite, layaknya Pantai Mutiara‎ ini. Perlu diketahui, sedikitnya total aset yang dimiliki Freddy Budiman mencapai Rp 27 miliar lebih. Maka itu, aset-aset ini dikelola BNN, dan nantinya itu menjadi bagian dari operasional BNN dalam pemberantasan narkoba. Nah, salah satu aset yang paling menyita perhatian, rumah yang ini," papar Buwas.

Selain rumah tersebut, Buwas mengatakan delapan aset lain milik Pony Tjandra adalah dua unit rumah di Cempaka Putih, Jakarta Pusat; dan Bekasi Barat, Kota Bekasi. Ada juga lima bidang tanah dengan total luas sekitar 135.512 meter persegi di Bogor.

"Selain itu tiga mobil mewah juga ikut disita. Jadi ditotal ada Rp 27.282.130.000 atau Rp 27,2 miliar. Pony Tjandra divonis tambahan enam tahun penjara, asetnya disita. Walau sudah di penjara dari tahun 2014, sebulan dia mampu menafkahi seluruh keluarganya itu sebesar Rp 100 juta per-bulan," ungkap Buwas.

Menurut Buwas, Pantai Mutiara sangat rawan peredaran narkoba. Selain akses langsung berhadapan dengan laut, pengawasan di kawasan seperti ini justru diintensifkan agar meminimalisasi penyelundupan narkoba.

"Karena di sini, menurut saya alur narkoba sangat rentan," imbuh Buwas. (*)

Penulis:
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved