Sebanyak 800 Ton Per Hari Sampah Tidak Terangkut

Pemerintah daerah telah menggandeng pihak ketiga dalam proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTS) di TPA Sumurbatu.

Sebanyak 800 Ton Per Hari Sampah Tidak Terangkut
Wartakotalive/Ichwan Chasani
Puluhan pemulung menyabung nyawa dengan mengais sampah yang baru dibuang dari dump truk di TPA Sumur Batu. 
WARTA KOTA, BEKASI -- Sebanyak 800 ton sampah di Kota Bekasi tidak terangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumurbatu, Bantargebang, Kota Bekasi setiap hari.
Sampah itu, kini, tersebar di badan air seperti sungai, kali, danau dan tempat penampungan sampah sementara di lingkungan warga.
Kepala Bidang Persampahan dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) pada Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Dadang Mulyana mengatakan, sampah tidak terangkut dengan baik ke TPA Sumurbatu karena alokasi anggaran di bidangnya sangat kecil.
Bidangnya hanya mendapat tiga persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Bekasi.
Idealnya, kata dia, alokasi dana sebesar 15-20 persen dari anggaran yang ada.
"Alokasi dana saat ini cukup kecil, yaitu baru tiga persen atau Rp 128 miliar dari APBD Kota Bekasi," kata Dadang pada Selasa (7/2/2017).
Menurutnya, dalam sehari jumlah produksi sampah di Kota Bekasi mencapai 1.500 ton hingga 1.600 ton per hari.
Dia mengakui, 50 persen sampah atau sebesar 800 ton yang diproduksi warga tidak terangkut oleh petugas.
Soalnya, anggaran yang diterima bukan hanya difokuskan untuk operasional pengangkutan sampah saja, tapi dialokasikan untuk perluasan zona TPA, gaji pesapon dan pemeliharaan kendaraan serta pengadaan perlengkapan pegawai.
"Karena anggaran yang kecil itulah, maka pengangkutan sampah lebih kurang 50 persen dari yang dihasilkan penduduk," katanya.
Dadang menjelaskan, sebetulnya, pengelolaan sampah memerlukan biaya yang tinggi karena keberadaan sampah yang tidak terkelola dengan tepat akan berdampak buruk pada kesehatan masyarakat.
Tak jarang, warga banyak yang menderita penyakit inpakesi saluran pernapasan akut (ISPA), kolera dan pes (penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri yersinia pestis).
Dadang menilai, banyaknya sampah yang tersebar juga dipicu karena kesadaran masyarakat terhadap lingkungan masih rendah.
Mereka ada yang membuang sampah seenaknya ke pinggir jalan atau bahu air.
"Kesadaran masyarakat sangat diperlukan dalam menjaga lingkungan agar terbebas dari sampah yang bisa menimbulkan berbagai macam penyakit," ujarnya.
Sementara itu, ‎Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Jumhana Lutfie menambahkan, sampah yang tidak terangkut petugas sebetulnya ada yang dikelola masyarakat melalui bank sampah.
Hingga saat ini, sudah ada 120 sampah yang tercatat di lembaganya.
"Tapi, yang aktif baru 66 bank sampah, sedangkan sisanya kadang aktif dan kadang tidak," kata Lutfie.
Lutfie optimis, persoalan penumpukan sampah akan segera diselesaikan dengan baik.
Pemerintah daerah telah menggandeng pihak ketiga dalam proyek pembangunan  Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTS) di TPA Sumurbatu.
"Instalasi sedang dikerjakan di TPA Sumurbatu dan sudah 75 persen. Mudah-mudahan bulan April 2017 sudah bisa dilaksanakan programnya," kata Lutfie.
Lutfie meyakini, keberadaan PLTsa sangat bermanfaat bagi masyarakat banyak.
Selain bisa menghasilkan tenaga listrik, keberadaan teknologi ini juga bisa mengurangi tumpukan sampah di TPA Sumurbatu.
Dalam proyek itu pun, kata dia, tak ada biaya yang dikeluarkan pemerintah.
"Ini investasi dari pihak ketiga, pemerintah tidak mengeluarkan biaya, tapi malah diuntungkan dengan pengelolaan sampah menjadi listrik," ungkapnya.
Tidak hanya itu, kata dia, proyek ini bisa membantu pemerintah dalam menata TPA Sumurbatu.
Pemerintah juga tak perlu membebaskan lahan warga guna perluasan zona TPA di sana, sehingga bisa menghemat pengeluaran pemerintah sebesar puluhan miliar untuk pembebasan lahan. ‎
Penulis: Fitriyandi Al Fajri
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved