Pilkada DKI Jakarta
Isma Menangis karena Anaknya Tidak Dapat Berobat
Ibu beranak lima orang anak itu bahkan nekat menghentikan langkah Sandi di hadapan banyak warga yang memenuhi lokasi tersebut.
WARTA KOTA, DUREN SAWIT -- Calon Wakil gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Salahuddin Uno kembali melakukan aksi blusukannya di kampung Sawah Barat Dalam II, RT 01/06, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur pada Selasa (24/1/2017).
Dalam pertemuan itu, Sandi pun dibrondong sejumlah pertanyaan oleh warga terkait program andalan yang diusungnya.
Hal serupa juga yang dilakukan Isma (45) warga RT 02/06 Pondok Bambu.
Ibu beranak lima orang anak itu bahkan nekat menghentikan langkah Sandi di hadapan banyak warga yang memenuhi lokasi tersebut.
Isma yang berkerja sebagai pemulung sampah tersebut, berkeluh kesah kepada Sandi, jika putri nomor duanya yang berusia satu setengah tahun, Fatmawati didiagnosa mengidap penyakit kelenjar getah bening.
Ironisnya, putrinya tersebut tak kunjung mendapatkan perawatan medis yang layak, lantaran dirinya tak mempunyai cukup uang.
"Bapak, tolong saya pak. Putri saya ditolak dari rumah sakit," lirih Isma dengan meneteskan air mata.
Tak hanya itu, kata Isma, putrinya telah 2 pekan lamanya hanya bisa terbaring menahan sakit, karena sejumlah rumah sakit ternama di ibu kota kerap menolaknya.
Alasannya memilukan. Sebagai warga Jakarta, yang juga terdaftar sebagai peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), Isma tak mampu lagi membayar iuran BPJS kelas 3, yang paling murah yaitu Rp 25.500 per bulan.
"Saya udah masukin anak saya ke Rumah Sakit Cipto (Cipto Mangunkusumo), tapi sudah disuruh pulang karena BPJS saya sudah mati, belum dibayar. Saya nggak bisa bayar, karena seharinya saja di Cipto, saya harus bayar biaya berobat lapan sampai sembilan ratus (Rp 800.000-Rp 900.000). Uang dari mana lagi," sesalnya.
Atas hal tersebut, putrinya harus menjalani perawatan ala kadarnya di rumah. Kondisi sang putri, lanjut Isma, semakin hari-semakin buruk. Tubuhnya membengkak dan tiap waktu menderita kejang-kejang. Isma akhirnya memilih tak bekerja untuk merawat putri kesayangannya tersebut.
"Kata dokter, dia harus dioperasi dengan total biaya Rp 18 juta. Sekarang saya punya uang hasil pinjam rentenir Rp 5,5 juta. Tiap malam dia kejang-kejang kesakitan," ucap Isma dengan mata berkaca.
Mendapati itu, Sandiaga pun terlihat iba. Berulang kali, Sandi merangkul dan memegang tangan Isma untuk menenangkan kekhawatirannya tersebut.
"Saya akui, biaya kesehatan dan berobat kita memang masih mahal. Ini menjadi catatan utama kita. Ke depannya, ini harus di perbaiki," ucap Sandi.
Lebih jauh, Sandi juga meminta para timnya, khususnya Badan Kesehatan Indonesia Raya (Kesira) yang hadir di lokasi untuk mencatat keluhan dan alamat Isma. Sebab, seperti diketahui Tim Kesira tak akan pulang dari rumah sakit, sebelum pasiennya mendapatkan kamar yang layak.
"Ibu bersabar ya, tim kita akan segera menyikapi ini. Kita akan bantu semaksimal mungkin. Saya berjanji, persoalan ibu menjadi catatan penting buat kita," ucap Sandi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/sandiaga_20170124_201623.jpg)