Transportasi Jakarta
Plt Gubernur DKI Minta Jokowi Tentukan Desain Kereta MRT
Sumarsono akan meminta Presiden Joko Widodo, untuk memutuskan desain untuk rolling stock atau lokomotif kereta Mass Rapid Transit (MRT).
Penulis: Mohamad Yusuf |
Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Mohamad Yusuf
WARTA KOTA, BALAI KOTA -- Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta, Sumarsono, akan meminta Presiden Joko Widodo, untuk memutuskan desain untuk rolling stock atau lokomotif kereta Mass Rapid Transit (MRT).
Pasalnya terjadi perubahan desain eksterior kereta MRT dari yang sudah direncanakan.
Sumarsono atau Soni, mengatakan bahwa telah dilakukan kunjungan terakhir tim Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, dengan tim MRT, ke Jepang untuk cek rolling stock dan mock up
"Setelah dicek seluruh, ya bagus dan cocok, sesuai dengan diharapkan. 95 persen sudah siap dan oke semua," kata Soni di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (18/1/2017).
Namun, terdapat lima persen yang dinyatakan oleh tim kurang, yaitu masalah desain kereta tersebut.
Menurutnya, setelah hasil diskusi, pihaknya menginginkan kereta yang lebih artistik, sportif, aerodinamis.
"Akhirnya dibuat desain baru warna biru. Desain yang warna hijau diganti. Itu adalah bentuk modifikasi hasil dari tim. Lalu diskusi dengan tim dari Jepang. Mempercantik desain menjadi alternatif yang baru ini menurut hasil versi diskusi. Ini yang kemudian belum dijelaskan. Mereka mendesain, Sumitomo dan tim kita," katanya.
Menurut Soni, perubahan desain itu karena desain kereta yang berwarna hijau kurang sesuai.
"Paling lambat besok kami sampaikan laporan ke Presiden mau pilih mana. Ini kan yang memprakarsai Jokowi. Nggak ada salahnya kita berikan pertimbangan kepada tim kita untuk sebaiknya yang mana ke Pak Jokowi," katanya.
Namun, untuk perubahan itu, hanya sebatas bagian kepala kereta saja atau lima persen. Jika perubahan untuk seluruhnya, membutuhkan biaya Rp 64 miliar dan waktu satu tahun.
"Saya ingin tetap Maret 2019 beroperasi. Jepang yang berwenang penuh atas desain lokomotif tersebut. Posisi kami nggak mau ada tambahan biaya. Kami minta ini tapi tampa tambahan biaya dan waktu. Jepang mempertimbangkan itu," katanya.
Kontrak
Sementara itu, Direktur Utama PT MRT, William P Sabandar, mengatakan bahwa perubahan desain seperti perubahan warna cat atau pemindahan logo, bisa saja dilakukan.
"Perubahan bisa saja, selama tidak melanggar ketentuan dalam kontrak yang telah diteken, pada Maret 2015, lalu dengan konsorsium kontraktor," katanya.
Tapi, jika perubahan desain menimbulkan risiko penambahan waktu atau harganya menjadi mahal, perubahan desain tidak mungkin dilakukan.
"Jika hanya desain minor itu butuh waktu 1-2 hari saj. Tapi kalau secara signifikan dan menimbulkan resiko, memakan waktu empat bulan lantaran pembuatnya harus benar-benar melakukan perubahan struktur, modeling dan hitungan-hitungan keamanan dan aksebilitas," katanya.
Menurut William, berdasarkan pesanan rolling stock PT MRT dan Pemprov DKI, pada 1 Februari nanti, sudah harus mulai dikerjakan. Karena itu, perubahan desain hanya memiliki waktu 31 Januari nanti.
"Memang waktu kita sangat sempit. Ada dua hal yang tidak bisa kami toleransi yaitu aspek teknis dan aspek operasi. Segala kemungkinan terbuka hingga 31 januari untuk perubahan minor," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20170118plt-gubernur-dki-minta-jokowi-tentukan-desain-kereta-mrt_20170118_213111.jpg)