Aroma Pungli di Balik Perekrutan PPSU Pondok Labu

Menurut informasi, ada lima PPSU pindahan dari PHL Sudin Kebersihan yang menjadi korban pungli oleh oknum pejabat.

Aroma Pungli di Balik Perekrutan PPSU Pondok Labu
Warta Kota/Panji Baskhara Ramadhan
Ilustrasi. Sejumlah pekerja Harian Lepas (PHL) hingga para Pekerja Penanganan Sarana dan Prasarana Umum (PPSU) mengangkut sampah rumah tangga yang menutup permukaan Kali Gendong. 

WARTA KOTA, CILANDAK -- Perekrutan petugas prasarana dan sarana umum (PPSU) di Kelurahan Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan diduga diwarnai aksi pungutan liar (pungli).

Menurut informasi, ada lima petugas kebersihan atau PPSU pindahan dari PHL Sudin Kebersihan yang menjadi korban pungli oleh oknum pejabat di kelurahan tersebut.

Informasi yang berhasil dihimpun, pungli diduga dilakukan oknum Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Kelurahan Pondok Labu berinisial MS, yang terjadi pada Desember 2016 lalu. Modusnya, pelaku memintai uang kepada lima PHL Kebersihan yang akan masuk menjadi PPSU Kelurahan.

Semula masing-masing orang dimintai uang Rp 300.000 dengan alasan sebagai biaya untuk proses penerimaan PPSU. Tak lama kemudian, kelimanya kembali dimintai uang masing-masing Rp 100.000 dengan alasan untuk uang makan penguji.

Tahun 2015 lalu, Kelurahan Pondok Labu memang melakukan rekrutmen PPSU yang di dalamnya termasuk PHL Tata Air, Kebersihan dan Pertamanan. Dari 180 pelamar, hanya 86 orang yang diterima sebagai PHL di Kelurahan Pondok Labu.  70 sebagai PPSU, 11 orang PHL Kebersihan dan lima orang PHL Pertamanan.

Sebenarnya kelima pekerja itu merupakan PHL lama di Sudin Kebersihan, namun untuk masuk menjadi PPSU Kelurahan Pondok Labu mereka tetap diwajibkan mengikuti tes terlebih dulu.

Kecolongan

Saat dikonfirmasi, Lurah Pondok Labu Siti Fauziah Gozali mengakui adanya kasus dugaan pungli saat rekrutmen PPSU itu. Dia merasa kecolongan dengan kejadian ini. Siti sendiri mengetahui kasus itu pada 25 Desember lalu.

Setelah mendengar kasus dugaan pungli itu, Siti mengaku langsung memanggil oknum berinisial MS. Awalnya, kata Siti, MS membantah melakukan pungli. Namun saat dikonfrontir dengan lima PHL yang menjadi korbannya, MS akhirnya mengaku. Ketika itu dia beralasan pemungutan uang hanya bersifat meminjam.

"Saya merasa kecolongan karena itu kejadiannya tanpa sepengetahuan saya. Saat itu juga langsung saya periksa san pertamanya mengelak. Setelah dikonfrontir dengan lkma korbannya malah berdalih meminjma uang ke PPSU," kata Siti kepada wartawan, Rabu (18/1/2017)

Siti menjelaskan, kasus pungli itu sudah ia laporkan kepada pihak berwenang, antara lain pihak Kecamatan, Bagian Tata Pemerintahan, Inspektorat Pembantu Kota (Irbanko), Sekretariat Kota, hingga Walikota Jakarta Selatan.

"Hari Selasa kemarin (17/1/2017) berkas BAP sudah diserahkan ke Bagian Tata Pemerintahan," bilang Siti.

Dia menegaskan, proses rekrutmen PPSU itu gratis tanpa ada biaya sepeserpun. Bahkan pihaknya sudah mewanti-wanti pegawainya untuk tidak melakukan pungli saat rekrutmen. PPSU pun diminta melapor jika ada oknum PNS yang melakukan pungli.

Kasus pungli tersebut kini telah ditangani Irbanko Jakarta Selatan. Sementara itu, hingga kini oknum kepala seksi berinisial MS itu belum dapat dikonfirmasi. Saat disambangi ke kantornya, yang bersangkutan sedang tidak ada di tempat.

Penulis: Gopis Simatupang
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved