Senin, 18 Mei 2026

Cinta Terakhir Bung Karno

Anakmu Ini Kelak Akan Mendapatkan Orang Besar (1)

Pernikahan secara Islam diadakan di Wisma Negara, 11 Juni 1966. Saksinya Ketua DPA Idham Chalid dan Menteri Agama Saifuddin Zuhri.

Tayang:
Penulis: AchmadSubechi | Editor: AchmadSubechi
TRIBUN KALTIM
Heldy Djafar (kiri), istri kesembilan Bung Karno 

WARTA KOTA, PALMERAH--TAK banyak yang tahu kalau Presiden RI I Soekarno, ternyata pernah menikahi Heldy Djafar, seorang gadis asli Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Pernikahan secara Islam diadakan di Wisma Negara, 11 Juni 1966. Saksinya Ketua DPA Idham Chalid dan Menteri Agama Saifuddin Zuhri.

Saat Soekarno dikucilkan di Wisma Yaso, Heldy, lalu menikah dengan pria lain. Pria itu bernama Gusti Suriansyah Noor, keturunan dari Kerajaan Banjar.

Belakangan, satu dari enam orang anaknya, menikah dengan cucu Presiden RI Soeharto.

Dimanakah Heldy sekarang? Bagaimana kisahnya? Beberapa hari lalu, Heldy terlihat bersama Asisten I Pemprov Kaltim Meiliana saat bertemu di Malam Resepsi HUT Pemprov Kaltim.

Bagaimana kisah cintanya dengan Soekarno? 

Berikut cerita bersambungnya dibedah dari buku berjudul 'Heldy Cinta Terakhir Bung Karno' yang dtulis Ully Hermono dan Peter Kasenda. Buku ini diluncurkan oleh Penerbit Buku Kompas.

                                                                ***

USIANYA masih 10 tahun. Suatu hari di tahun 1957, Heldy, menyaksikan sebuah mobil bak terbuka yang melintas di depan rumahnya.

Para penumpang mobil menyebarkan selebaran berisi pengumuman bahwa akan ada pidato Presiden Soekarno di Samarinda.

Kakak kandung Heldy, bernama Yus, tak mau ketinggalan. Ia ikut memunggut lembaran kertas itu.

Sambil berdiri di balik pagar rumahnya, Jalan Mangkurawang, Tenggarong, bocah itu sempat bertanya kepada kakaknya. "Ada apa Kak ke Samarinda?"

"Bapak Presiden mau pidato di sana, saya mau mendengarkan langsung di alun-alun Samarinda," kata Yus.

Mendengar penjelasan dari kakaknya, Heldy mulai merengek. "Aku mau ikut dengarkan pidato Presiden. Aku juga mau lihat langsung wajah Bapak Presiden."

"Tidak usahlah, kau masih anak-anak, kau mengerti apalah, sudah masuk rumah," pinta Yus. Setelah mengajak adiknya masuk ke dalam rumah, Yus, bergegas lari, mengejar rombongan manusia yang hendak pergi ke Samarinda.

Heldy lalu masuk ke kamar ibunya Hj Hamiah. Seketika itu juga ia menangis. "Mau lihat Presiden... mau lihat Presiden..." rengeknya.

Mendengar tangis anaknya, sang ibunya malah geram. Gadis kecil itu dicubitnya.

"Kayak nenek moyangnya aja yang datang. Tidak boleh ikut, nanti kegencet orang banyak, kamu anak kecil memang tahu apa tentang pidato Presiden. Saudara juga bukan. Sudahlah diam, dan sudahlah cukup dengarkan pidato Presiden lewat radio. Duduklah!"

Maklum, namanya saja anak kecil. Walau sudah diberI tahu, Heldy masih saja tetap merengek. Ia masih saja menangis hingga sore hari.

Keinginan Heldy untuk melihat dari dekat pidato Presiden Soekarno itu, mungkin terpicu dengan gambar-gambar Bung Karno dalam bentuk kalender maupun hiasan dinding yang terpajang di rumahnya.

"Di rumah kami, gambar Bung Karno ada dimana- mana. Dalam bentuk kalender maupun hiasan dinding. Maklum saja, saat itu Bung Karno adalah presiden kebanggaan seluruh rakyat Indonesia," kenang Erham, kakak kandung Heldy yang paling tua.

                                                                       ***
HELDY lahir di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, tangggal 10 Agustus 1947 dari pasangan H Djafar dan Hj Hamiah. Ia bungsu dari sembilan bersaudara.

"Bapak seorang aanemer (pemborong). Kami hidup serba kecukupan. Bapak termasuk orang terpandang dan dihormati di desa kami."

Ketika Hj Hamiah mengandung Heldy, wanita itu sempat melihat bulan bulat seutuhnya (bulan purnama). Lalu seorang rekan H Djafar yang sedang bertandang ke rumahnya (seorang Tionghoa) mengatakan, "Nanti bayimu lahir harus dijaga hati-hati ya, sampai beranjak dewasa," begitu pesannya.

Saat Heldy duduk di bangku SMP, seorang tante yang dianggap pandai meramal dan biasa disapa Mbok Nong mengatakan, "Wah anakmu ini kelak jika dewasa akan mendapatkan orang besar.

" Mendapat penjelasan itu, Hj Hamiah balik bertanya. "Orang besar itu maksudnya apa?" "Ya bertitellah seperti insinyur, dokter. Jadi tolong dijaga hati-hati ya."
                                                               ***
RUMAH orang tua Heldy adalah rumah panggung. Bangunannya memanjang ke samping mencapai 30 meter dan memanjang ke belakang 40 metter.

Terbuat dari kayu pilihan dengan plafon rumah setinggi empat meter dan memiliki jendela yang berukuran panjang ke bawah dengan kisi-kisi kayu, lalu berlapis kaca pada bagian luarnya.

Jumlah jendelanya pun cukup banyak. Di atas pintu masuk depan rumah tertulis tahun dibangunnya rumah tersebut, tahun 1938. (sumber: diolah dari buku berjudul Heldy Cinta Terakhir Bung Karno)

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved