Kasus Atlet Doping, Menpora Beri Kesempatan Hak Jawab

"Saya beri kesempatan bagi atlet untuk mengajukan hak jawab hingga mengajukan banding. Hak jawab ini diperlukan agar atlet punya kesempatan.."

Kasus Atlet Doping, Menpora Beri Kesempatan Hak Jawab
Tribunnews.com/Reynas Abdila
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi pada konferensi pers di kantor Kemenpora, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6/2015). 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com Banu Adikara

WARTA KOTA, SENAYAN - Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi pada Rabu (11/1) mengatakan bahwa ia memberi ruang bagi 14 atlet yang positif doping pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jabar kemarin untuk melakukan pembelaan.

"Saya beri kesempatan bagi atlet untuk mengajukan hak jawab hingga mengajukan banding. Hak jawab ini diperlukan agar atlet punya kesempatan untuk menjelaskan kondisi yang dialaminya pada saat PON dan Peparnas berlangsung, " kata Imam.

Imam mengatakan, dirinya memastikan akan terus memantau kasus ini hingga selesai.

"Saya juga berharap kasus ini ditelusuri hingga tuntas dan proses berjalan dengan transparan dan seadil mungkin," katanya.

Imam pun mengaku kecewa dengan terungkapnya kecurangan ini. Pasalnya, jumlah atlet positif doping ini lebih tinggi ketimbang PON XVIII Riau lalu.

"Persoalan doping ini jangan jangan dilihat sebelah mata. Apalagi jumlah atlet yang terindikasi doping lebih tinggi ketimbang PON empat tahun lalu yaitu tujuh orang. Namun demikian, kasus ini juga harus ditindaklanjuti secara serius dan berhati-hati karena terkait masa depan atlet," katanya.

Lebih lanjut, Imam pun menegaskan bahwa jika terbukti benar, maka tentu ada sanksi berat yang menanti.

"Sanksi olahraga terhadap atlet bisa saja diberlakukan seumur hidup jika nantinya atlet terbukti sengaja menggunakan doping, " kata Imam.

Jika dugaan doping terbukti, lanjut Imam, maka bukan tidak mungkin hal yang sama bisa kembali terulang.

"Artinya masih ada celah yang bisa dimanfaatkan oleh mereka yang tak mau berkompetisi dengan bersih. Tindakan tegas penting diambil untuk melindungi atlet-atlet bersih yang berjuang keras untuk merebut prestasi, " ujar Imam.

Untuk mencegahnya, Imam mengatakan bahwa ia akan memperkuat kelembagaan Lembaga AntiDoping (LADI).

"LADI wajib mensosialisasikan obat-obatan yang masuk dalam kategori doping atau mengandung zat yang dilarang penggunaaannya oleh  Badan Doping Internasional (WADA), " katanya. (kar)

Penulis: z--
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved