LPAI Minta Aktivis Stop Ekspos Penderitaan Anak

Reza Indragiri Amriel meminta para aktivis atau pegiat perlindungan anak untuk menghentikan mengekspos atau menyuplai info kehebohan tentang penderita

Penulis: Budi Sam Law Malau | Editor: Andy Pribadi
Tribunnews.com
Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel. 

WARTA KOTA, DEPOK -- Ketua Bidang Pemenuhan Hak Anak Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Reza Indragiri Amriel meminta para aktivis atau pegiat perlindungan anak untuk menghentikan mengekspos atau menyuplai info kehebohan tentang penderitaan anak korban kekerasan belaka.

Ia khawatir pemberitaan yang terus menerus akan berhenti atau sebatas hanya menceritakan ulang keekstriman kekerasan anak yang diinfokan pegiat perlindungan anak, tanpa ada fokus untuk menemukan solusi mengatasi dan mencegahnya.

"Hari ini berita tentang anak dianiaya. Besok berita tentang anak yang dianiaya lebih keji. Lusa, lebih sadis lagi. Tulat, lebih biadab. Publik dibombardir dengan berita tentang kejahatan terhadap anak yang bobotnya terus bereskalasi.
Munculkah efek jera?," kata Reza, Selasa (10/1/2017).

Menurutnya hingga beberapa masa, ekspos penderitaan anak oleh media massa memang bisa menumbuhkan pemahaman akan situasi bahaya yang dihadapi anak.

Tapi berikutnya, kata dia, berdasar studi, justru yang merisaukan adalah terjadinya titik jenuh, yakni media fatigue.

"Akibatnya, pemberitaan akan berhenti atau media sebatas menceritakan ulang keekstriman yang diinfokan pegiat perlindungan anak. Itu disayangkan karena untuk mendorong kebijakan atau regulasi tentang perlindungan anak, peran media ternyata lebih kuat ketimbang aktivis perlindungan anak, atau ini disebut legislation by tabloid," kata Reza.

Menyadari peran strategis media tersebut, media perlu menantang wawasan organisasi perlindungan anak.

"Paksa para pegiat untuk tidak menyuplai info tentang kehebohan dan penderitaan anak belaka. Uji kesiapan mereka untuk berfokus pada solusi, baik langkah praktis maupun aspek legislasi," katanya.

Sebab katanya masyarakat yang tidak dibuat melek legislasi hanya akan mempersepsi negara seolah sama sekali tidak hadir dan tidak berpihak pada anak.

"Panik, apatis bahkan putus asa adalah wujudnya. Para predator pun merasa leluasa beraksi. Sebaliknya, masyarakat yang tahu adanya piranti hukum tentang perlindungan anak akan lebih gencar melaporkan kasus-kasus yang mereka hadapi," kata Reza.

Menurutnya, media massalah yang bisa mengedukasi publik tentang legislasi tersebut.

Dan media massa, tambahnya bisa kian pintar serta ramah anak berkat ilmu atau informasi yang (semestinya) ditransfer oleh organisasi pegiat perlindungan anak.

"Jadi, stop mengeksploatasi kesengsaraan anak. Tebar benih-benih ketangguhan untuk menjamin perlindungan anak," kata Reza.(bum)

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved