Bikin Bergidik, Halte Busway Ciledug Tak Ramah Bagi Ibu Hamil dan Lansia
Halte Busway yang masih menggunakan tangga dan kondisi halte yang tinggi dinilai tidak ramah bagi kaum disabilitas dan wanita hamil.
WARTA KOTA, KEBAYORAN LAMA -- Pembangunan halte busway koridor Blok M-Ciledug kini masih dalam proses pembangunan, namun kondisi halte yang menjulang tinggi dinilai tidak ramah untuk kaum disabilitas. Jakarta, (4/1/2017).
Sebelumnya, diketahui banyak perbincangan mengenai Koridor 13 karena letak halte yang terlalu tinggi dan tangga yang terlalu curam.
Pantauan Warta Kota, di lokasi pembanguan jalan layang Blok M-Ciledug ini akan dilalui busway, sehingga beberapa halte tengah proses pembangunan.
Baca: Sulit Diakses, Sejumlah Halte Busway Masih Tidak Ramah Penyandang Disabilitas dan Orang Tua
Namun, beberapa halte yang sudah nampak wujudnya baru halte busway Kebayoran Lama, Halte Busway Seskoal, dan Halte Busway Pasar Cipulir, sedangkan untuk Halte Univ Budi Luhur, Halte JORR W2, Halte ITC Cipulir masih dalam proses pembangunan.
Hal tersebut nampak para pekerja yang tengah sibuk dalam proses pembangunan jalan layang dan halte busway.
Namun, salah salah satu pekerja yang engan disebutkan namanya saat berada dilokasi mengatakan jalur layang sendiri memilik ketinggian yang berbeda, ada yang 10 meter ada yang lebih.
"Nantinya, penumpang yang akan naik bus Transjakarta naik dari sini, ini masih proses dibangun," katanya secara singkat, Rabu (4/1/2017).
Ia juga engan di konfirmasi lebih lanjut apakah nanti akan ada penambahan lift/eskalator.
Kondisi halte Busway yang masih menggunakan tangga dan kondisi halte yang tinggi dinilai tidak ramah bagi kaum disabilitas dan ibu hamil.
Hal tersebut dituturkan oleh Yanto (47) pengendara ojek pangkalan di dekat ITC Cipulir.
Ia mengatakan, seharusnya, pemerintah bisa memahami bagaimana kebutuhan masyarakat, jika kondisi halte yang begitu tinggi dan mengunakan tangga justru akan menyulitkan bagi warga yang memang sudah lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas.
"Tidak hanya lansia coba kalo wanita hamil, masa iya harus naik tangga setinggi itu, yang ada itu bayi brojol duluan mas," katanya saat dijumpai Warta Kota, Rabu (4/1/2017).
Namun ia meyakini bahwa pemerintah pasti sudah memahami sebelum dilakukan pembangunan.
"Namanya pemerintah yah, pasti udah tahu lah bagaimana untuk kenyamanan warga, jika ada lift atau ekskalator justru lebih bagus, penguna juga pasti lebih nyaman," katanya.
Hal senada juga diungkapkan Pariyem (40) tukang jamu gendong dikawasan Cipulir.
Ia mengatakan bahwa jika harus naik halte busway untuk menyebrang jalan terlalu tinggi dan melelahkan.
"Kalo haltenya tinggi yang ada sudah cape duluan mas sampai atas, apa lagi seperti saya harus gendong jamu ada beban buat naik," katanya.
Baca: JPO yang Terintegrasi dengan Halte Transjakarta Disarankan Untuk Menggunakan Eskalator
Jika ia tak mengunakan JPO sekaligus menjadi tempat halte busway, ia terpaksa terobos jalan walau memang harus mengambil risiko.
"Ya mau gimana, dari pada naik tangga tinggi tinggi mas, mending nyebrang aja," katanya.
Sebagian jalur di bawah jembatan layang Blok M Ciledug sudah nampak ditanami sebuah pohon hias guna mempercantik, namun sebagian belum ditanami karena masih dalam proses pembangunan.
Untuk sampai halte busway warga diharuskan menaiki lima sampai enam tanjakan mengunakan anak tangga. (Joko Supriyanto)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/busway_20170104_193831.jpg)


