Pilkada DKI Jakarta

E-Commerce Dianggap Sandi Solusi UKM Modern

Program One Kecamatan One Center for Entrepreneurship (OK OCE) dianggap Sandiaga Salahudin Uno sebagai solusi atas masalah pengangguran yang dialami w

E-Commerce Dianggap Sandi Solusi UKM Modern
Warta Kota/Dwi Rizki
Program One Kecamatan One Center for Entrepreneurship (OK OCE) dianggap Sandiaga Salahudin Uno sebagai solusi atas masalah pengangguran yang dialami warga Ibukota. 

WARTA KOTA, KRAMATJATI -- Program One Kecamatan One Center for Entrepreneurship (OK OCE) dianggap Sandiaga Salahudin Uno sebagai solusi atas masalah pengangguran yang dialami warga Ibukota.

Namun, berbagai pertanyaan pun muncul, salah satunya mengenai pemasaran dan peningkatan usaha yang dirintis pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) ke depannya.

Menanggapi kekhawatiran tersebut, Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta itu mengaku memiliki strategi untuk meningkatkan usaha para pelaku UKM, yakni lewat pengoptimalan media internet, seperti penggunaan e-commerce.

Karena menurutnya, perkembangan teknologi secara langsung mengubah kebiasaan masyarakat, khususnya warga Ibukota.

Rutinitas ditambah kesibukan, mengubah gaya hidup menjadi serba digital.

"Your answer is in fingertips, in your smartphone (Jawabanmu ada di ujung jarimu, di ponsel pintarmu), tinggal type (ketik) aja, semua ada di internet-mudah. Jadi perubahan (gaya hidup) ini harus kita manfaatkan sebagai peluang, e-commerce adalah jawabannya," ungkapnya saat menjadi motivator bagi para pengusaha muda di Pesantren Tahfizh Al Quran Al Utsmani di Jalan Munggang, Balekambang, Kramatjati, Jakarta Timur pada Minggu (1/1) siang.

Peluang itu katanya seperti yang dilakukan oleh Nadiem Makarim pendiri Gojek.

Diceritakannya, awal mula terbentuknya bisnis Gojek bermula dari pengalaman Nadiem yang kesulitan mengejar waktu di Ibukota.

Kemacetan yang terjadi sepanjang hari dan sulitnya akses transportasi masal katanya menjadi alasan mengapa Nadiem memilih untuk mengembangkan bisnis terbuka bagi para pengemudi ojek.

"Idenya simple, tapi mengena. Awalnya dia cerita suka terlambat ketemu klien, janjian suka molor karena macet, apalagi pas hujan, jalanan stuck (macet), itu menjadi minus dia yang waktu itu jalani perusahaan konsultan. Tapi pada saat bersamaan, dia suka lewat dipengkolan (tikungan) itu ada banyak tukang ojek yang lagi nganggur, main catur, duduk-duduk nunggu tarikan, dia kepikiran untuk berdayakan mereka," ungkapnya.

Ide Nadiem katanya bukan hanya direndahkan, banyak dari pemodal yang diminta berinvestasi justru menertawakan.

Tapi lanjutnya, perubahan gaya hidup dan kebutuhan terus berubah, Gojek yang semula dipandang miring sekarang berubah menjadi perusahaan besar berkat e-commerce.

"Ada sebuah gebrakan, dari semula Gojek yang semula menawarkan jasa mengantarkan orang berubah menjadi barang dan terus berkembang sampai sekarang ada Go Massage. Saya yakin dulu Nadiem nggak pernah mikir bisnisnya bisa sebesar ini, kendala yang semula dirasakannya justru jadi solusi semua orang, dia kerja cerdas dengan memanfaatkan teknologi, bahkan dalam waktu kurang dari lima tahun bisnisnya sekarang sudah mencapai Rp 15 triliun," paparnya. (dwi)

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved