Polisi Pemutilasi Dua Anak Malah Bebas, Ibu Kandung Hanya Bisa Berkaca-kaca dan Berduka

Peteus Bakus yang melakukan pembunuhan serta memutilasi kedua anak kandungnya di Kabupaten Melawai.

Polisi Pemutilasi Dua Anak Malah Bebas, Ibu Kandung Hanya Bisa Berkaca-kaca dan Berduka
Warta Kota/Feryanto Hadi
Kasus pemutilasi anak kandung, pelakunya bebas. 

WARTA KOTA, PASAR REBO -- Kasus seorang oknum polisi bernama  Peteus Bakus yang melakukan pembunuhan serta memutilasi kedua anak kandungnya di Kabupaten Melawai, Kalimantan Barat, 26 Febuari 2016 tidak hanya menyisakan keperihan di hati keluarga besar.

Belum juga hilang rasa sedih,  Windri Hairin Yanti (26), istri yang pelaku yang juga ibu dari dua anak malang itu harus menelan pil pahit, ketika suaminya bebas dari jerat hukum.

"Pada persidangan di Pengadilan Sintang pada 1 Desember lalu, hakim menyatakan, suami saya bebas karena dianggap punya kelainan jiwa," kata Windri di Komnas PA, Pasar Rebo Jakarta Timur, Kamis (29/12/2016).

Baca: Sebelum Dimutilasi, Kuru Sempat Pukul Korban Pakai Balok

Windri menegaskan, suaminya membunuh dan memutilasi kedua anaknya bukan karena suaminya gila.

Melainkan, pada saat itu, mereka sedang ada masalah dan hendak bercerai.

"Suami saya tidak gila. Dia melakukan itu karena supaya saya tidak bisa mendapatkan anak saya terkait masalah perceraian kami," katanya.

Baca: Sofyan Dimutilasi Lalu Disemen di Dalam Rumah, Ini Cerita Lengkapnya yang Mengerikan

Melihat hasil persidangan yang menurut pihak keluarga tak masuk akal, keluarga kemudian meminta bantuan Komnas Perlindungan Anak (PA) agar dapat mengajukan banding untuk meninjau kembali masalah tersebut. Pihak keluarga juga ingin bukti bahwa Petrus Bakus memang mengalami gangguan kejiwaan.

"Yang bersangkutan meminta bantuan Komnas PA, untuk sampaikan ke Mahkamah Agung dan Jaksa Penuntut Umun mempertimbangkan kembali yang mengatakan itu bebas dengan alasan menderita gangguan jiwa dan siapa dokter yang meyatakan itu, dan suaminya bebas tanpa masuk RS Jiwa," kata Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait.

Sementara itu, Sekjen Komnas PA, Dhanang Sasongko menjelaskan, motif yang dilakukan suami untuk membunuh serta memutilasi kedua anaknya di landasi rasa sakit hati, dan terkait masalah kejiwaan, pihaknya masih tidak mempercayai hal tersebut karena bukti masih dipertanyakan.

"Ini motifnya sakit hati, terus yang kedua, masalah kejiwaannya si Petrus sempat naik pangkat dari Briptu ke Brigadir sebulan sebelum kejadian, logikanya dia dinyatakan gila, sedangkan yang melakukan proses penilaian bahwa dia naik pangkat lembaga kepolisian, berarti itu masih dibilang gila," terang Dhanang.

Penulis: Feryanto Hadi
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved