Breaking News:

Diperiksa Jadi Saksi, Dosen UBK Bantah Ada Makar, Hanya Keinginan Kembali pada UUD 1945

Aminudin membantah adanya ajakan pada 2 Desember yang ingin menduduki gedung MPR/DPR dan mencabut mandat Presiden Joko Widodo.

Penulis: | Editor: Gede Moenanto
Twitter
Rachmawati Soekarnoputri didampingi Yusril Ihza Mahendra. 

WARTA KOTA, SEMANGGI -- Salah satu dosen dari Universitas Bung Karno (UBK) bernama Aminuddin, ikut diperiksa terkait dugaan makar beberapa orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Aminuddin diperiksa sebagai saksi dari tersangka Rachmawati Soekarnoputri dan Eko Suryo Santjojo di Mapolda Metro Jaya, Semanggi, Jakarta Selatan, Selasa (20/12/2016).

Pemeriksaan ini adalah yang pertama kali dilakukan kepadanya.

Terkait materi pemeriksaan, ia menjelaskan pertanyaan dari penyidik bersifat normatif layaknya saksi-saksi lainnya.

"Konteksnya, ditanya kegiatan, rapat-rapat dan sebagainya. Yah kita sampaikan apa yang saya tahu. Rapatnya kan untuk kembali ke Undang-Undang Dasar 1945 asli saja," katanya, Selasa (20/12/2016).

Dia mengaku, dirinya ikut terlibat dalam beberapa pertemuan seperti di Universitas Bung Karno (UBK) pada 20 November 2016 dan Hotel Sari Pan Pasific 1 Desember 2016.

Dari pertemuan di UBK, ia menuturkan, UBK hanya menjadi tempat para aktivis bertemu dan membahas dikembalikannya UUD 45 ke awal tanpa amandemen.

Sementara pertemuan di UBK adalah kelanjutan dari pertemuan dengan Ketua MPR Zulkifli Hasan pada 15 Desember 2015 lalu.

"Jadi, sebenarnya kelanjutan yang pernah kita sampaikan ke MPR tanggal 15 Desember 2015. Kalau temen ikuti kita pernah ke MPR dan diterima oleh pak Zulkifli Hasan. Disitu ada ketua tim kajian kembali ke UUD 45, kalau gak salah dari partai Golkar," katanya.

Dalam pertemuan tersebut, dirinya mengaku memang sebagian dari 9 orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka dugaan makar turut hadir.

Halaman
123
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved