Gempa Aceh
Masih Banyak Bangunan Tak Tahan Gempa di Aceh, Ini Kata BNPB
Pasca gempa di Pidie Jaya, Rabu (7/12/2016) lalu, puluhan ribu rumah yang mengalami rusak berat adalah rumah yang tidak tahan gempa.
WARTA KOTA, PALMERAH - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan pentingnya pengetahuan tata ruang dan pemanfaatan bangunan tahan gempa bagi permukiman di Indonesia, khususnya Aceh, yang tak asing lagi dengan gempa bumi.
Pasca gempa di Pidie Jaya, Rabu (7/12/2016) lalu, puluhan ribu rumah yang mengalami rusak berat adalah rumah yang tidak tahan gempa.
"Sebagian besar belum tahan gempa dan daerah sesar hendaknya tidak dibangun menjadi permukiman," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho saat dihubungi Tribunnews.com, Jumat (9/12/2016).
Sutopo mengatakan, masyarakat Aceh memang sudah memiliki pengetahuan soal kebencanaan, termasuk pengetahuan mengenai bangunan tahan gempa. Namun, pembuatan rumah tahan gempa seperti rumah kayu, tidaklah murah.
"Itu justru malah tahan gempa, karena mampu merespons goncangan. Rumah tahan gempa itu biasanya mahal karena komponennya (kayu) 30 hingga 50 persen yang lebih mahal," ungkap Sutopo.
Menurutnya, selain pembangunan rumah tahan gempa, perlu adanya latihan menghadapi risiko bencana dan sosialisasi terus-menerus.
Data sementara yang dikemukakan BNPB, ada 10.534 unit rumah rusak, 2.015 rumah di antaranya rusak berat, 85 rumah rusak sedang, dan 8.434 rumah rusak ringan. Kemudian, 105 ruko roboh, 19 ruko rusak berat, dan 55 masjid rusak berat. (Yurike Budiman)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/rusak_20161207_085521.jpg)