Jumat, 10 April 2026

Pria Ini Hidup dengan HIV Tanpa Menulari Istri dan Anaknya

DKI Jakarta berada di posisi keempat setelah Papua, Papua Barat, dan Jawa Timur.

Penulis: Feryanto Hadi |
Tribunnews.com
Ilustrasi 

WARTA KOTA, CAWANG - Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Sumedi mengatakan, DKI Jakarta saat ini menempati posisi 14 dari kota-kota besar di Asia Pasifik, terkait kasus HIV/AIDS. Di Jakarta, kasus HIV sebanyak 42.834, dan AIDS sebanyak 8.162 kasus.

Untuk itu, pada momen peringatan Hari AIDS yang jatuh setiap 1 Desember, Sumedi berharap hal itu bisa menjadi refleksi bersama tentang bahayanya penyakit tersebut.

"Peringatan Hari AIDS bertujuan menjadi pengingat tentang bahaya dan cepatnya penularan HIV/AIDS. Mengingat virus HIV yang menyerang sistem kekebalan tubuh hingga kini belum diketahui anti-virusnya," kata Sumedi dalam kegiatan Percepatan Jakarta Mengakhiri Epidemi AIDS 2020 di Aula Sudirman Makodam Jaya, Jalan Mayjen Sutoyo, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (6/12/2016).

DKI Jakarta berada di posisi keempat setelah Papua, Papua Barat, dan Jawa Timur. Terkait hal tersebut, kata Sumedi, program percepatan Jakarta mengakhiri epidemi AIDS 2020 dapat memperlambat percepatan penyebaran virus HIV, sekaligus mengurangi angka pengidap HIV dan AIDS.

Sementara, pengidap AIDS bernama Timotius Hadi Wiyono mengimbau masyarakat, khususnya ODHA (Orang dengan HIV AIDS), agar tidak putus asa menghadapi kehidupan.

"Dulu saya pemakai narkotika dan menggunakan jarum suntik secara bergantian. Saat kemudian divonis terkena HIV pada 2003, saya juga terpukul. Tapi hidup terus jalan, sekarang bagaimana caranya saya survive," jelasnya.

Karena itu, sejak 2004 ia mulai minum obat, dan setahun kemudian ia juga mulai mensosialisasikan bahaya HIV/AIDS.

"Ketika itu, saya bergabung dengan LSM HIV AIDS bernama Karisma sejak tahun 2006-2014. Dari teman-teman di sana, saya jadi bersemangat untuk membuka diri dan mengajak pengidap HIV terbuka untuk saling mendukung program pencegahan," ungkapnya.

Salah satu program pencegahan penularan yang ia perjuangkan adalah Protection Mother dan Child Infection (PMCI), tujuannya agar seorang ODHA tidak menularkan kepada istri dan anaknya.

"Puji Tuhan, sejak saya menikah dengan istri yang negatif (HIV AIDS) enam tahun lalu, sampai sekarang istri saya tetap negatif. Puji Tuhan juga, anak pertama saya lahir dua tahun lalu dan bulan Juni mendatang anak kedua saya lahir, mereka juga negatif," paparnya.

"Mungkin banyak yang bertanya kenapa istri dan anak saya bisa negatif, itu karena masa pembuahan dilakukan saat kondisi virus melemah dan saat istri dalam kondisi subur," jelasnya.

Untuk mengetahui saat pelemahan virus, kata Hadi, dapat menggunakan Tes Virus Load (VL). Namun. tes ini hanya bisa dilakukan dalam rentang waktu enam bulan.

"Tes ini hanya bisa dilakukan di rumah sakit besar dengan biaya cukup mahal, antara Rp 800 juta- Rp 1 juta untuk sekali tes," terangnya. (*)

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved