Sabtu, 11 April 2026

Banjir di DKI Jakarta

Hujan Mengakibatkan DKI Tahu Akar Persoalan di Ibu Kota

Penyebabnya, saluran tertutup benda-benda seperti sampah, kabel utilitas, beton sisa pembangunan.‎

Warta Kota/Panji Baskhara Ramadhan
Ilustrasi. Banjir parah di Muara Karang. 

WARTA KOTA, KEBAYORAN BARU -- Hujan deras yang mengguyur wilayah DKI Jakarta, khususnya wilayah Jakarta Selatan, akhir-akhir ini kerap membuat sejumlah wilayah tergenang.

Buruknya kualitas drainase menjadikan air lambat surut.

Sejumlah kawasan penting seperti Jalan Jenderal Sudirman, Jalan HR Rasuna Said--yang menjadi markas sejumlah kedutaan besar negara sahabat--Jalan Jenderal Gatot Subroto, atau kawasan elite Kemang, Mampang Prapatan, tidak luput dari genangan dan tak jarang sampai memutus arus lalu lintas.

Namun, kondisi itu disyukuri oleh Kepala Dinas Tata Air DKI, Teguh Hendarwan.

Baca: Kuasa Hukum Beranggapan, Tudingan Makar Diduga Salah Sasaran

Menurutnya, hujan justru memiliki arti positif.

Penyakit yang menjangkiti wilayah ibu kota selama bertahun-tahun, yakni buruknya sistem drainase, jadi terkuak.‎
"Saya bersyukur, dengan adanya hujan nunjukin penyakit kita. Sekarang, di mana ada genangan, kita bongkar salurannya," ujar Teguh, Minggu (4/12/2016).
Teguh menjelaskan, DKI memiliki 1.169 saluran penghubung (phb) yang tersebar di seluruh 267 kelurahan. Belum lagi drainase-drainase lain, semisal selokan dan gorong-gorong.
Namun, kata Teguh, saluran-saluran yang seharusnya berfungsi mengalirkan air dari pemukiman ke sungai, tak bisa bekerja maksimal.
Penyebabnya, saluran tertutup benda-benda seperti sampah, kabel utilitas, beton sisa pembangunan.‎
"Makanya, sekarang semua pasukan biru (sebutan pegawai Dinas Tata Air--Red) bekerja keras untuk mengembalikan fungsi saluran air. Kalau semua jalan air bagus, terkoneksi, tersistem, terhubung, saya jamin genangan sudah nggak ada," kata dia.
Teguh menjamin, saat ini genangan-genangan yang pernah muncul di Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jalan HR Rasuna Said, dan lainnya sudah tidak tampak lagi karena salurannya sudah dibenahi.
"Makanya, hujan itu berkah, bukan musibah. Musibah itu manusianya yang bikin," katanya.‎
Di sisi lain, Teguh menjelaskan, hingga kini rencana penertiban lanjutan bangunan yang melanggar garis sepadan sungai dalam rangka normalisasi Kali Krukut, wilayah Jakarta Selatan, masih dalam proses.
Hasil inventaris termutakhir, sudah lebih dari 600 bangunan yang terindikasi melanggar.‎
"Normalisasi Kali Krukut tidak semudah itu. Kita program normalisasi Sungai Ciliwung saja sudah berjalan tiga tahun belum kelar. Sampai sekarang pencapaiannya baru 40 persen. Jadi, ini bicaranya urusannya panjang," kata Teguh.‎
Dia mengatakan, proses inventarisasi, penarikan atau penentuan trase sungai, tidak semudah membalikkan telapak tangan.
"Bagaimana dengan mereka yang punya alasan? Tentunya kan butuh proses untuk penggantiannya. Kalau mereka mau, kalau nggak bagaimana? Contoh seperti di Bidara Cina, kan mereka melakukan gugatan hukum di PTUN," katanya. ‎

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved