Riset Susu Formula Bisa Makan Waktu 10 Tahun
Riset pembuatan susu formula (sufor) untuk anak, ternyata tidak sederhana dan melalui proses panjang.
WARTA KOTA, SINGAPURA - Riset pembuatan susu formula (sufor) untuk anak, ternyata tidak sederhana dan melalui proses panjang.
Produsen susu formula SGM Eksplor, Sarihusada, membutuhkan waktu paling cepat satu tahun untuk melakukan riset satu produk susu.
“Jarang sekali riset yang satu tahun, ada yang sampai 10 tahun bahkan lebih untuk membuat satu produk,” jelas Oi Po Leong, Direktur Riset dan Pengembangan Danone Nutricia Early Life Nutrition Indonesia kepada wartawan di Singapura, Rabu (23/11/2016) lalu.
Sejumlah wartawan berkunjung langsung ke pusat penelitian Nutricia, di Biopolis, Singapura. Namun media tidak diperkenankan mengambil gambar.
Dikatakannya, pengembangan produk SGM Eksplor yang ada di Indonesia saat ini tak lepas dari kolaborasi antara penelitian lokal dan dukungan jaringan global yang dimiliki Danone.
Produk SGM dibuat dari kolaborasi jaringan ilmuwan di pusat penelitian dan pengembangan (R&D) Nutricia di Singapura, dan Belanda serta tenaga ahli Sarihusada di Yogyakarta.
Pusat penelitian Nutricia di Biopolis, Singapura, merupakan salah satu pusat penelitian regional yang dimiliki oleh Danone yang memiliki fokus penelitian pada kesehatan ibu dan anak.
“Di sini (Biopolis) kami memiliki simulator pencernaan pada anak, simulator ini yang pertama di dunia,” ujarnya.
Dalam laboratorium Nutricia tersebut, simulator memiliki beberapa tabung yang menggambarkan kondisi pencernaan anak.
Simulator itu dikontrol melalui computer dan memasukkan enzim yang mirip pada bagian lambung hingga usus anak. Sehingga dapat diketahui efek terhadap setiap percobaan dalam formulasi susu.
“Kalau kandungan susu tidak dapat diserap dengan baik, ya percuma saja. Untuk itu kita harus tau betul bagaimana penyerapan dalam tubuh anak,” tuturnya.
Berbagai pakar dalam bidang daya tahan tubuh (immunology), nutrition programming, sistem pencernaan lambung dan studi klinis bekerja di fasilitas ini.
“Sebagai bagian dari misi kami membawa kesehatan melalui makanan bagi sebanyak mungkin manusia, kami menggabungkan ilmu pengetahuan, pengalaman dan keahlian yang kami miliki untuk pengembangan produk yang disesuaikan dengan kebutuhan anak di setiap tahapan tumbuh kembang mereka,” kata Pui Kuun Ng, R&D Communication Manager Nutricia Research Center Biopolis Singapura.
Fasilitas penelitian yang dilengkapi dengan teknologi modern ini menggandeng lebih dari 400 ilmuwan dan tenaga ahli di berbagai universitas dan institusi riset di lebih dari 35 negara, termasuk Indonesia.
Dikatakannya, penelitian dilakukan dengan riset terhadap kebutuhan anak Indonesia.
“Kebutuhan dan kebiasaan anak Indonesia dengan anak Singapura saja berbeda, apalagi dengan Negara lain seperti di Jepang, atau di Eropa,” ujarnya.
Ia mengatakan, produk susu pertumbuhannya juga dirancang sesuai pola diet masyarakat Indonesia, dari hasil penelitian dan pengembangan selama lebih dari 60 tahun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/mediavisit_sgm_20161125_095737.jpg)