Remaja Gabung Geng Motor Akibat Intelektual dan Kreativitas yang Rendah

Di waktu hampir bersamaan, puluhan remaja geng motor juga mengamuk di kawasan Kalibata Pulo, Pancoran.

Penulis: Feryanto Hadi | Editor: Gede Moenanto
London Today/Daily Mail
Ilustrasi komplotan geng sepeda motor. 

WARTA KOTA, CIPAYUNG -- Sekumpulan remaja pembuat onar kembali marah.

Mereka kerap berkonvoi berkeliling dengan sepeda motor, menyerang sekumpulan remaja lain dengan bekal senjata tajam yang mereka bawa.

Tak kenal belas kasih, mereka akan melukai orang secara acak.

Seperti yang menimpa Rendi Hermawan (17) yang tewas dibacok sekelompok geng motor di Jalan Raya Cipayung di depan Kelurahan Lama, perempatan Cipayung RT/RW 001/08, Cipayung, Jakarta Timur, Minggu (20/11) jelang subuh.

Di waktu hampir bersamaan, puluhan remaja geng motor juga mengamuk di kawasan Kalibata Pulo, Pancoran.

Lebih dari sebulan lalu perselisihan dua geng motor juga menewaskan pemuda di Jatiasih, Bekasi. Peluru gotri menembus bagian kepala dan dadanya, ditembakkan dari jarak dekat. Korban bernama Tribowo (20), remaja asal Cilangkap, Cipayung.

Ditarik ke belakang lagi, banyak kasus melibatkan geng motor beranggotakan para remaja.

Pengamat Sosial Universitas Pancasila, Aully Grashinta, kenalan remaja seperti itu merupakan perilaku agresif yang tidak terkontrol yang muncul ketika remaja itu berada di dalam suatu kelompok.

"Sebenarnya ini adalah perilaku agresif yang muncul saat berada dalam kelompok. Identitas seseorang menjadi melebur dan cenderung melakukan konformitas dengan kelompok. Dengan demikian, individu tidak merasa takut, malah terdorong melakukan agresifitas jika kelompok mendukung melakukan hal itu," terang Aully melalui sambungan telepon, Senin (21/11).

Usia remaja yang butuh eksistensi, makin percaya diri dan merasa lebih kuat karena ada dukungan anggota kelompok yang lain. Dengan hilangnya identitas pribadi menjadi identitas kelompok, sebut Aully, remaja yang biasanya takut melakukan agresifitas menjadi lebih berani.

"Fenomena geng motor ini kita lihat bahwa banyak anak muda tidak punya 'saluran' yang tepat untuk mengekspresikan energinya," ujarnya.

"Anak anak ini tidak memiliki arahan dan dukungan. Misalnya kalau ngumpul bersama-sama mau ngapaian? apa yg dibicarakan?"

Kelompok remaja seperti itu, Aully menambahkan, kemungkinan memiliki kemampuan intelektual dan kreativitas juga rendah.

Sementara, untuk beraktivitas dan berkumpul memerlukan biaya.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved