Demo Ahok

Polri : Tidak Ada Penggunaan Senjata Api dalam Pembubaran Massa

Kepala Divisi Humas Polri menjelaskan isu penggunaan senjata api oleh polisi dalam menangani unjuk rasa 4 November.

Polri : Tidak Ada Penggunaan Senjata Api dalam Pembubaran Massa
Warta Kota/Panji Baskhara Ramadhan
Warga Luar Batang yang melakukan kerusuhan dipukul mundur. 

WARTA KOTA, JAKARTA - Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar menegaskan tidak ada penggunaan senjata api dalam upaya membubarkan pengunjuk rasa yang melakukan aksi damai di sekitar Monumen Nasional dan Istana Merdeka pada Jumat malam.

"Sekitar pukul 19.30 WIB diputuskan langkah pembubaran dengan menembakkan gas air mata yang bunyinya seperti suara ledakan senjata (api). Itu bukan senjata api melainkan pelontar gas air mata," kata Boy kepada wartawan di Jakarta, Sabtu.

Baca: BREAKING NEWS : Buni Yani berpotensi tersangka

Baca: Sejumlah Media Malaysia Beritakan Unjuk Rasa 4 November

Pembubaran massa menggunakan gas air mata terpaksa dilakukan aparat kepolisian karena selepas bada Isya terjadi tindakan yang memicu provokasi yakni penyerangan petugas polisi oleh seorang laki-laki dengan menggunakan bambu runcing, yang disusul dengan pelemparan botol, batu, kayu, dan benda-benda berbahaya lainnya ke arah petugas.

Pengunjuk rasa juga mencoba mendekati kompleks Istana Merdeka dengan merusak barikade keamanan dan bahkan merusak kendaraan aparat kepolisian dan TNI.

"Tercatat ada tiga kendaraan yang dibakar (massa) dan 18 rusak karena dilempari batu. Padahal ini kendaraaan dinas negara yang dibeli dari uang rakyat untuk membekali para petugas yang berdinas," kata Boy.

Insiden tersebut mengakibatkan 160 warga sipil sempat dirawat di RS Budi Kemuliaan karena gas air mata yang sangat pekat.

Sementara dari aparat keamanan dilaporkan puluhan aparat luka-luka. Mereka terdiri atas 79 personel polisi dirawat jalan, dua polisi, lima anggota TNI, dan satu petugas pemadam kebakaran dirawat intensif di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat.

Baca: Jokowi: Rusuh Ditunggangi Oleh Aktor Politik Yang Memanfaatkan Situasi

Pihak kepolisian juga mengonfirmasi satu korban meninggal dunia atas nama Syachrie Oy Bcan (55), dengan dugaan sementara karena penyakit asma.

"Kami sangat menyesalkan peristiwa ini terjadi. Kami menghormati dan mengawal warga masyarakat yang berunjuk rasa, ternyata niatnya bukan hanya unjuk rasa tetapi ingin menyerang petugas," ungkap Boy.

Unjuk rasa yang dilakukan ratusan ribu elemen masyarakat dari ormas Islam ini dilakukan untuk menuntut percepatan proses hukum atas dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta non aktif Basuki Tjahaja Purnama. (Antara)

Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved