Uang Bau Telat, Warga Bantargebang Ancam Turun ke Jalan

Warga sekitar TPST Bantargebang nyaris berunjukrasa ke jalan karena uang kompensasi dari Pemprov DKI tak kunjung datang.

Uang Bau Telat, Warga Bantargebang Ancam Turun ke Jalan
warta kota/ichwan chasani
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumurbatu, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi

WARTA KOTA, BEKASI-Warga yang tinggal di dekat Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi nyaris 'turun' ke jalan. Mereka hendak berunjuk rasa karena kesal uang kompensasi bau dari Pemprov DKI Jakarta belum kunjung cair sejak Juli lalu.

Gunin (42) penduduk Kelurahan Ciketingudik, Kecamatan Bantargebang mengatakan, warga sudah kesal dengan janji-janji DKI. Bahkan Rabu (26/10) pekan lalu, mereka berencana turun ke jalan untuk berunjuk rasa. Namun rencana itu berhasil digagalkan oleh tokoh masyarakat setempat.

"Hampir banget mereka turun ke jalan, untungnya kami tahan dan massa mengerti," kata pria yang sekaligus menjabat sebagai Ketua RT 01/05 Ciketingudik pada Selasa (1/11/2016).

Gunin mengatakan, apa yang warga khawatirkan selama ini rupanya terjadi. Gunin menyebut, setelah diswakelola oleh DKI pada Juni lalu, bantuan dari Ibukota Jakarta itu cenderung telat. Berbanding terbalik ketika TPST dikelola swasta, bantuan tidak pernah telat. "Makanya pas wacana TPST diswakelola DKI pada Juni lalu, kami sempat menolak karena khwatir seperti ini," jelas Gunin.

Dia pun berharap agar DKI turun ke lapangan guna menjelaskan persoalan tersebut. Sebab hingga kini, warga tidak mengetahui penyebab keterlambatan dana CD. Bahkan bila warga tidak mendapat kejelasan, tidak menutup kemungkinan akan turun ke jalan.

"Kami tidak bisa terus menahan warga, karena kalau tidak ada kejelasan pasti bakal turun ke jalan. Kami saja sampai sekarang tidak tahu kenapa bantuannya tidak dikirim," jelas Gunin.

Irwan (29) warga lainnya mengakui, keluarganya belum menerima dana kompensasi bau sampah TPST Bantargebang sejak September lalu. Padahal, ketika dikelola oleh swasta dana itu tak pernah telat.

"Setiap akhir tri wulan menerima Rp 200.000, karena dipotong Rp 100.000 untuk pembangunan," kata Irwan.

Dia pun berharap agar pemerintah memperhatikan warga yang tinggal di dekat TPST Bantargebang. Sebab bantuan yang dijanjikan oleh DKI akan digunakan untuk keperluan sehari-hari. Misalnya membeli air minum, makanan dan keperluan lainnya.

"Bantuan dari DKI sangat membantu untuk menutupi kebutuhan sehari-hari keluarga," kata warga Kelurahan Cikiwul ini.

Halaman
12
Penulis: Fitriyandi Al Fajri
Editor: Max Agung Pribadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved