Breaking News:

Kedai KOPI Lakukan Survei Ilmiah, Santai Jika Ada yang Tidak Puas dan Melapor ke KPU DKI

Intinya, yang perlu digarisbawahi, lembaga survei seperti mereka itu netral dan tidak memihak kepada siapa pun.

Editor: Gede Moenanto
Kompas.com
Survei mutakhir KedaiKOPI terkait elektabilitas tiga pasangan kandidat yang berlaga di ajang Pemilukada DKI Jakarta 2017. 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Ada kabar, sebagian kalangan merasa tidak puas dengan hasil survei ilmiah yang dilakukan dan telah diumumkan, baru-baru ini.

Hendri Satrio, selaku Juru Bicara Lembaga Survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (Kedai KOPI), memersilakan jika ada orang yang melaporkan kepada KPU DKI terkait hasil survei Pilkada DKI 2017, Minggu (30/10/2016).

"Intinya, yang perlu digarisbawahi, kita itu netral dan tidak memihak kepada siapa pun," kata Hendri, ketika dihubungi Warta Kota, Senin (31/10/2016).

Hendri menampik, tudingan yang ditujukan kepada lembaga survei Kedai KOPI.

Pasalnya, Hendri menyatakan, Kedai KOPI merupakan lembaga yang sudah teruji metodologinya.

"Silakan saja, bahkan, jika KPU DKI mengundang kita untuk mempersentasikan, ya akan kita lakukan. Lagi pula dari hasil survei kami, menampilkan keunggulan dan kelemahan masing-masing calon," kata Hendri.

Dikatakan Hendri bahwa, pihaknya pun akan mendaftarkan lembaga survei Kedai Kopi ke KPU DKI.

"Iya itu kan batasnya 30 hari sebelum pemilihan, jadi nanti didaftarkan kok," katanya.

Sebelumnya, Lembaga survei Kedai Kopi dilaporkan oleh Organisasi massa Sekretariat Bersama Rakyat (Sekber), atas dugaan rekayasa hasil survei Pilkada Jakarta 2017 kepada KPUD Jakarta, Salemba, Jakarta Pusat, Senin (31/10/2016).

Laporan itu diarahkan lima perwakilan Sekber kepada KPUD Jakarta, berdasarkan hasil survei hitung cepat Pilkada Jakarta yang dirilis Kedai Kopi pada Minggu (30/10/2016).

Ketua Umum Sekber ,Mixil Mina Munir, menduga dari 85 pertanyaan yang dilayangkan oleh Kedai Kopi kepada masyarakat Jakarta ada 20 pertanyaan yang hasilnya dimanipulasi.

"Dalam kode etik lembaga survei hanya boleh ada toleransi hasil sebesar 0,1 persen dari 100 persen, yaitu 99,9 persen atau 100,1 persen. Kalau lebih dari itu pasti ada rekayasa hasil survei," ungkap Mixil Mina Munir.

Seperti pertanyaan berikut "Apakah saat ini anda sudah memiliki pilihan pasangan cagub/cawagub DKI Jakarta?".Mixil menduga pertanyaan tersebut dimanipulasi.

Dari hasil survei pertanyaan tersebut, Sekber mencatat responden, yang menjawab sebesar 99,40 persen dan bukan 100 persen.

Sebagai informasi, Hasil survei, yang dilakukan Kedai KOPI menyimpulkan bahwa calon gubernur dan calon wakil gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, mungkin kalah jika Pilkada DKI Jakarta 2017 berlangsung hingga dua putaran.

Survei ini salah satunya menguji kemungkinan head to head ketiga pasang calon kepala daerah pada babak kedua.

Simulasi pertama yang dilakukan adalah menghadapkan Basuki (Ahok)-Djarot dengan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Hasilnya, Anies-Sandi dipilih oleh 43,9 persen responden, sedangkan Ahok-Djarot mendapat 37,3 persen suara. Sementara itu, 18,7 persen responden lainnya tidak memilih.

Skenario kedua adalah head to head antara Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni dan Ahok-Djarot.

Hasilnya, Ahok-Djarot menjaring 33,9 persen responden, sedangkan Agus-Sylvi memperoleh s)uara sebesar 48,1 persen.

Sementara itu, kalangan responden yang abstain sebanyak 18 persen. (Faizal Rapsanjani)

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved