Senin, 27 April 2026

Ironi Pasar Pesanggrahan, Baru Diresmikan Ahok, Sudah Ditinggal oleh Para Pedagang

Kalau dulu, per lobang (per kios) kena bayar karcis Rp 2.000-an per hari. Itu pun kalau buka, kalau tutup nggak ditarik.

WARTA KOTA, PESANGGRAHAN -- Pasar Rakyat Pesanggrahan yang terletak di Jalan Garuda RT 07/14, Kelurahan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama pada 26 Agustus 2016.
Namun, belum lama diresmikan pasar tersebut kini sudah mulai ditinggalkan sebagian pedagang.
Berdasarkan pengamatan Warta Kota, Rabu (19/10/2016), tidak tampak suasana hiruk-pikuk di Pasar Pesanggrahan seperti yang biasa dijumpai di sebuah pasar. Yang ada puluhan kios tampak tutup. Sejumlah pedagang yang masih bertahan melamun menunggu pembeli.
Hanya beberapa penjahit yang tampak sibuk menjahit pakaian pesanan konsumen.
Berbagai alasan menjadi penyebab pedagang meninggalkan Pasar Pesanggrahan. Mulai dari sepinya pembeli hingga tarif sewa kios perbulan yang dirasa memberatkan pedagang. Padahal, sebelumnya pedagang berharap dengan bangunan yang lebih modern warga akan senang datang dan berbelanja di pasar tersebut.
"Kios banyak yang tutup karena pembelinya sepi. Kalau pagi pun pembelinya nggak banyak, paling satu dua. Setelah diresmikan kemarin, sudah ada lebih dari 20 pedagang yang menutup kiosnya," ujar Sutopo (51), seorang pedagang sembako, kepada Warta Kota, di Pasar Pesanggrahan, Rabu (19/10/2016).
Sutopo menyoroti beban tarif sewa kios yang dikenakan kepada pedagang. Menurutnya, tatif sewa kios yang otomatis terpotong (auto debet) ke rekening Bank DKI sebesar Rp 330.000 perbulan. Bukan soal mahalnya, tapi karena harganya tak sesuai dengan jumlah pembeli yang datang.
"Retribusinya menurut kami masih terlalu tinggi. Ibaratnya ini kan masih terseok-seok. Kita saja yang sudah dagang lama merasa berat, apalagi pedagang baru," bilang Sutopo.
Lelaki warga Pesanggrahan itu menyewa tiga kios ukuran 2x2 meter sekaligus yang seluruhnya diisi sembako. Dia mengaku telah berdagang di Pasar Pesanggrahan sejak tahun 1997, jauh sebelum bangunan pasar dibuat lebih modern seperti saat ini.
"Kalau dulu, per lobang (per kios) kena bayar karcis Rp 2.000-an per hari. Itu pun kalau buka, kalau tutup nggak ditarik. Sekarang mau tutup atau buka tetap kepotong Rp 330.000 perbulan. Dulu omzetnya bisa sampai Rp 5 juta perhari, tapi sekarang cuma setengahnya," kata dia.
Kondisi makin sulit karena pedagang yang memiliki kios tidak bisa sembarangan menyewakan kiosnya kepada orang lain. "Kalau kita punya kios sembako, harus disewakan ke pedagang sembako juga. Kalau dia mau dagang baju, misalnya, nggak bisa," jelasnya.
Mulyana (36), pedagang lainnya, juga mengeluhkan hal yang sama. Menurut dia, menjamurnya toserba modern alias mini market membuat pedagang kehilangan pelanggan. "Gimana mau rame, minimarket aja berjejer di sini. Kadang juga ada pembeli turun dari angkot tapi yang dicari di sini nggak ada, ya balik lagi," kata dia.
Untuk itu, Mulyana pun berharap agar Pemprov DKI Jakarta mencarikan solusi untuk menyelesaikan permasalahan itu. "Mungkin perlu promosi atau bikin pasar tematik seperti di Pasar Santa biar orang pada datang ke sini," katanya.
Gatra Vaganza, Kepala Humas PD Pasar Jaya, tidak membantah kondisi yang terjadi di Pasar Pesanggrahan. Menurut dia, saat ini PD Pasar Jaya memang tengah berupaya mencarikan solusi agar pasar seperti Pasar Pesanggrahan bisa ramai pembeli.
"Memang saat ini kondisi pasar di Pesanggrahan belum terlalu ramai. Kami sedang melakukan evaluasi terhadap pasar-pasar seperti Pasar Pesanggrahan untuk mencari solusi terbaiknya," ujar Gatra kepada Warta Kota.
Menurut Gatra, berbagai langkah untuk memajukan Pasar Pesanggrahan saat ini tengah dibahas. Termasuk membahas kemungkinan membuat pasar tematik di Pasar Pesanggrahan. "Itu jadi opsi juga sebetulnya, tapi saat ini kita masih coba merumuskan yang terbaik," kata dia.
 
Pasar Pesanggarahan berdiri di atas lahan seluas 2.360 meter persegi dengan luas bangunan 533,60 meter persegi dan terdiri dari dua lantai. Pasar ini berisi 158 tempat usaha yang terdiri dari 110 kios dan 48 los. Masing-masing kios memiliki luas 4 meter persegi, sementara los berukuran 1,95 meter persegi. Pasar Pesanggrahan dibangun oleh PD Pasar Jaya dengan menghabiskan dana sebesar Rp 6,8 miliar.
Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved