Breaking News:

Penerbitan Izin Lamban, Nelayan Muara Baru Menjerit

Nelayan Muara Baru mengeluhkan lambannya penerbitan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) yang membuat kinerja mereka tidak optimal.

Penulis: | Editor: Max Agung Pribadi
Warta Kota/Nur Ichsan
Pemogokan nelayan di Muara Baru. 

WARTA KOTA, CILINCING-Sejumlah pengusaha, paguyuban, pedagang hingga ratusan nelayan ikan di Kawasan Pelabuhan Samudera Nizam Zachman Muara Baru, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, sampai saat ini masih melakukan aksi stop operasional atau mogok kerja, Jumat (14/10/2016). Selain protes terkait kebijakan baru dari Perusahaan Umum (Perum) Perikanan Indonesia (Perindo), yakni menaikkan tarif sewa lahan mencapai 450 persen, para pemilik kapal nelayan juga menuturkan akan sulitnya mengurus perizinan berlayar dan lambannya penerbitan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI).

Anak Buah Kapal (ABK) Putra Karimun Jaya 88 Muara Baru dan sering membantu mengurus perizinan berlayar, Subari (43), membenarkan jika penertiban SIPI lamban. Keterlambatan penerbitan SIPI, berimbas 40 ABK di kapalnya tersebut menjerit.

"Jelas menjerit dong, sekarang saya tanya dulu, apa iya bisa melaut kalau SIPI-nya saja belum kami terima terbitan barunya. Empat bulan loh. Memangnya kami tidak mengerti? Gak sekolah ya? Ya kalau enggak melaut, pendapatan si pemilik kapal enggak ada. Nah, si pemilik kapalnya mau gaji nelayannya bagaimana caranya pak!" katanya di Muara Baru, Jumat (14/10/2016).

Subari mengakui dirinya kerap membantu pemilik kapal untuk mengurus surat perizinan untuk menangkap ikan. Ia juga menjelaskan, seluruh persyaratan sudah dipenuhi, dan kini hanya menunggu terbitnya SIPI.

"Setiap saya ke pihak pelabuhan karyawannya itu bilang nanti.. Nanti.. Nanti.. Terus-terusan bilang nanti. Apanya yang nanti-nanti? Yang jelas dong. Kami ini semua bingung, yang kurang di bagian mana sehingga SIPI kami ini belum juga terbit. Sudah berbulan-bulan pak!" ungkapnya.

Subari menjelaskan kembali bersama nelayan dan pemilik kapal, sudah seluruhnya membayar seluruh administrasi yang ada. Subari pun meminta agar Menteri Susi untuk menandatangani perizinan penangkapan ikan itu.

"Enggak hanya kami, ada pemilik kapal lain juga sama nasibnya seperti kami. Bahkan sampai menunpuk berkas-berkasnya. Sepertinya sengaja diulur-ulur biar kami ini tak bisa lagi melaut. Kami kan bukan pencuri. Saya katakan banyak nelayan sudah mengeluhkan karena tak mampu lagi membiayai keluarganya tersebut," tuturnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved