Breaking News:

Pemilik Kapal di Muara Baru Sebut Menteri Susi Persulit Izin Berlayar

Di sini, kami hanya meminta Ibu Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Susi Pudjiastuti untuk tidak lagi mempersulit izin berlayar kami.

Penulis: | Editor: Andy Pribadi
Warta Kota/Panji Baskhara Ramadhan
Kapten Kapal Putra Karimun Jaya 88 Muara Baru, Atu (40) (Kanan) dan Anak Buah Kapal (ABK) Kapal Putra Karimun Jaya 88 Muara Baru dan sering membantu mengurus perizinan berlayar, Subari (43), protes terhadap Menteri Keluatan dan Perikanan (KKP) RI, Susi Pudjiastuti, terkait lambannya pencetakan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI), di Muara Baru, Jumat (14/10/2016). Lambannya penerbitan SIPI tersebut, membuat kapal tak bisa melaut untuk menangkap ikan, dan membuat para ABK kapal menganggur 

WARTA KOTA, PENJARINGAN -- Sejumlah pengusaha, paguyuban, pedagang hingga ratusan nelayan ikan di Kawasan Pelabuhan Samudera Nizam Zachman Muara Baru, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, sampai saat ini masih melakukan aksi stop operasional atau mogok kerja, Jumat (14/10).

Selain protes akan adanya sebuah kebijakan baru yang dicanangkan Perusahaan Umum (Perum) Perikanan Indonesia (Perindo), dengan menaikkan uang sewa lahan mencapai 450 persen, namun para pemilik kapal nelayan juga menuturkan protesnya terkait akan sulitnya mengurus perizinan.

"Kami sudah bayar pajak, bayar juga Pungutan Hasil Perikanan (PHP), kami juga sudah tertib untuk ikuti semua peraturan. Apa lagi? Di sini, kami hanya meminta Ibu Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Susi Pudjiastuti untuk tidak lagi mempersulit izin berlayar kami. Masalah Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) kami tak dicetak sampai tiga bulanan. SIPI itu harusnya 14 hari kerja pasti sudah jadi! Si Susi ini maunya apa! Masalahnya yang tanda tangani SIPI ini ya dia (Susi)!" kata Atu (40), selaku Kapten Kapal Putra Karimun Jaya 88 di Muara Baru.

Dijelaskan Atu, tak lambannya pencetakan SIPI membuat kapal yang dikendalikannya tak akan bisa melaut. Selama lebih dari tiga bulan, telah membuat ke-40 Anak Buah Kapal (ABK)-nya menjerit, lantaran tak lagi mendapatkan ongkos makan dan gaji bulanan dari pemilik kapal yang dibuat untuk menangkap cumi-cumi itu.

"Pemilik kapal yang saya nakhodai ini, pastinya juga sudah stres lah. Tax amnesti sudah, semua juga sudah diurus. Sementara, SIPI-nya ini kok sampai sekarang belum tercetak. Ini sepertinya ada korupsi waktu. Kami minta si Susi berikan penjelasan. Sebenarnya ada apa ini? Ngurusin SIPI saja kok lama. ABK saya sekarang sudah turun (enggak melaut) berbulan-bulan. Lalu si Susi ini mau ngasih makan apa ke merekanya?" ketus Atu.

Dikatakan Atu, tak hanya dirinya saja kesulitan untuk mengurus SIPI. Hampir ratusan pemilik kapal pusing dan stres, lantaran tak tercetaknya SIPI.

"Jika SIPI enggak ada, kami mana bisa melaut? Masa melaut tangkap ikan enggak ada SIPI-nya kan? Aneh kalau begini. Ada apa? Kurangnya dimana? Cetak SIPI saja kok susah banget. Kan kami sudah ikuti semua peraturan. Biadab kalau begini caranya. (BAS)

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved