Pemilukada DKI Jakarta

Ahok Tuduh Demonstrasi Semata-mata Ulah Provokator Bertujuan agar Dia Gagal Maju

Ahok tidak terima dirinya menjadi bulan-bulanan demonstrasi ribuan warga dan menuding ini sebagai ulh provokator.

Ahok Tuduh Demonstrasi Semata-mata Ulah Provokator Bertujuan agar Dia Gagal Maju
Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Lawan Ahok lakukan demonstrasi dengan kekuatan ribuan orang yang menggetarkan. 

WARTA KOTA, BALAI KOTA -- Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, mengaku telah mengetahui rencana dari aksi demo dari ribuan massa di Balai Kota, sebagai upaya penjegalan dirinya maju pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI 2017.

Menurut Ahok, dengan melaporkannya dalam kasus dugaan penistaan agama, agar masuk penjara, dan tidak bisa terpilih lagi sebagai Gubernur DKI 2017 nanti.
"Intinya mereka kan cuma mau nyeret aku ke penjara kan. Ini kan sebagian orang dari gerakan yang mau nyeret saya. Mulai dari kasus Sumber Waras, nyeret saya reklamasi, yang bikin anarkis di KPK. Kan tujuannya cuma itu. Tujuannya cuma satu, gimana Ahok bisa masuk penjara nggak ikut Pilkada," kata Ahok di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (14/10/2016).
Ahok pun menegaskan, bahwa dirinya tidak akan meminta maaf kembali. Pasalnya, ia sudah melakukan hal tersebut.
"Minta maaf mau ngapain lagi. Itu kan udah jelas minta maaf. Ini kan nggak terima minta maaf, masih demo kan. Ngapain kita mau ini. Orang udah minta maaf. Orang sama sekali udah jelas kok, bisa nonton videonya. Tidak ada maksud sama sekali kita menghina Al Quran atau menghina Islam," katanya.
Bahkan, menurut Ahok, permasalahan tersebut sebenarnya sudah selesai. 
"Orang sudah selesai kok. Semua pemimpin agama PBNU (Pengurus Besar Nahdatul Ulama) udah  ngomong. Bahkan Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) juga mengatakan tidak ada pelanggaran," katanya.
Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Ulama dan Masyarakat (Forkum), Gus Sholeh MZ, menyayangkan aksi tersebut. 
Pasalnya, ajang Pemilu justru mengakibatkan perpecahan antar sesama masyarakat.
"Pemilu adalah pesta demokrasi. Namanya pesta ya seneng-seneng. Tapi di Jakarta ini hawanya, pemilu kok malah seperti mau perang," kata Gus Sholeh.
Karena itu, ia meminta agar masyarakat, tidak terprovokasi. Pihak kepolisian pun diharapkan bisa menindak oknum yang memanfaatkan Pilgub DKI Jakarta untuk memprovokasi.
Pasalnya, jika nanti terjadi pergerakan massa dan terjadi kerusuhan, yang dirugikan adalah masyarakat.
"Kita ini adalah bangsa Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika. Kita pasti seluruhnya mencintai perdamaian. Kamu ini adalah milik orang Indonesia. Jangan semua memanas-manasi. Kalau sudah rusak siapa yang rugi?" katanya.
Gus Sholeh juga menilai bahwa sebenarnya masalah penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok, sudah diselesaikan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Pihaknya pun berharap agar  pihak-pihak yang tidak berkepentingan, untuk tidak memperkeruh dengan mengeluarkan pernyataan. 
"Sekarang ada pengamat dan ulama dadakan yang memberikan pernyataan yang vulgar. Kami minta jangan semuanya ikut bicara. Apalagi saat ini pengamat dan ulama dadakan yang provokatif. Ini menyebabkan Pilgub DKI Jakarta menjadi panas. Kita ini Indonesia. Kalau sudah terbakar maka kita yang rugi," tegasnya.
Penulis: Mohamad Yusuf
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved