Pemilukada DKI Jakarta

Kalangan Dewan Penasehat PBNU Menilai, Demokrasi di Jakarta Belum Matang

Kalangan Dewan Penasehat PBNU, KH Ahmad Ishomuddin mengatakan, demokrasi di DKI Jakarta belum matang.

Kalangan Dewan Penasehat PBNU Menilai, Demokrasi di Jakarta Belum Matang
Warta Kota/Faizal Rapsanjani
Dewan Penasehat PBNU 

WARTA KOTA, MENTENG -- Kalangan Dewan Penasehat Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) , KH Ahmad Ishomuddin mengatakan, demokrasi di DKI Jakarta belum matang.

"Bukti lain, misalnya, ketika kampanye berlangsung demokratisasi kita belum matang. Sebab dalam kampanye dalam menaikan citra dan pamor dirinya," katanya, di Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (13/1/2016).

Menurutnya, dalam politik pemilu ada dua hal yang terkadang membuat demokrasi menjadi tidak harmonis.

Sebab, citra dijadikan untuk menjelekan pasangan calon lainya.

"Dalam politik ada dua citra dan keterpilihan. Citra membahas masalahnya orang lain, agar masyarkat cenderung memilih dirinya. Black campaign ini dalam demokrasi maju ini seharusnya Tidak terjadi. Seharusnya visi misi dengan program jakarta yang lebih maju," jelasnya.

Ahmad mengimbau kepada masyarakat dan para politisi, agar tidak menggunakan ayat Al-Quran dan hadist nabi untuk menyerang calon lain.

"Saya mengimbau agar umat Islam jgn menggunakan ayat Al-Quran atau hadits nabi untuk menyerang calon lainnya," katanya.

Ia mengungkapkan, hal serupa yang saat ini dialami Ahok sempat terjadi masa silam dan mengimbau ayat-ayat suci Al-Quran tidak dikaitkan dengan simbol politik.

Menurutnya, kedudukan dan jabatan bukanlah segalanya. Akan tetapi, kebersamaan dan keutuhan berbangsa yang menjadi keutamaan.

Adapun soal pemilih, Ahmad mengatakan wajar saja jika ada orang jawa memilih orang jawa. Menurutnya itu bukan diskriminasi. (Faizal Rapsanjani)

Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved