Breaking News:

Nelayan Kecil Mulai Jadi Korban Pemogokan di Muara Baru

Nelayan kecil menjadi korban pemogokan yang dilakukan industri perikanan di Pelabuhan Nizam Zachman, Muara Baru, Jakarta Utara.

Penulis: | Editor: Max Agung Pribadi
Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Pemogokan operasional di Muara Baru. 

WARTA KOTA, PENJARINGAN-Nelayan kecil menjadi korban pemogokan yang dilakukan industri perikanan di Pelabuhan Nizam Zachman, Muara Baru, Jakarta Utara. Hingga saat ini pelabuhan yang selalu disebut sebagai yang terbesar di Asia Tenggara itu masih dalam kondisi sepi seperti kota mati. 

Pemogokan operasional sejak Senin (10/10) dilakukan setelah Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Perindo) beserta Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI menaikkan harga sewa lahan sebesar 450 persen. Spanduk-spanduk protes atas kebijakan itu yang dipajang di depan pagar di sejumlah pabrik ikan masih terpampang.

Pabrik pengolahan ikan masih tertutup rapat, hanya dijaga sejumlah petugas keamanan. Tak ada satu pun pegawai pabrik yang datang bekerja. Situasi yang sama tampak di Pusat Pelelangan Ikan (PPI). Tutupnya pabrik membuat para para pedagang ikan di PPI menghentikan kegiatan karena sepinya pesanan dari pabrik di kawasan Muara Baru.

Pedagang ikan kini mengeluhkan aksi tutup operasional tersebut karena berimbas pada minimnya hasil tangkapan nelayan

"Aksi-aksi beginian juga bikin perut kita semua jadi lapar. Enggak ada efeknya, pemerintah pun saya lihat cuma diam-diam saja ya dan enggak ada action sedikit pun. Saya pikir-pikir, aksi ini juga enggak berimbas ke pedagang ikan, pasti juga ke nelayan. Itu bisa dilihat dari kami saja ya, yang sudah kebingungan soal pasokan ikan yang sudah minim. Toh, tangkapan nelayannya saja juga sedikit kok. Entah karena kendalanya di bahan bakar yang dibilang minim, atau juga karena hal lain," papar Eko Rahman (40), pedagang ikan di PPI Pelabuhan Muara Baru kepada Warta Kota.

Eko yang saat itu sedang menyeruput kopi di PPI bersama pedagang ikan lainnya, mengakui jika tutupnya pabrik-pabrik ikan dipastikan akan berimbas ke harga ikan. Selain itu,terjadi ketidakstabilan harga ikan yang ujungnya akan mengguncang perputaran uang bagi pengusaha makanan ataupun restoran yang ada di Jakarta.

"Mas, di sini (Muara Baru) bisa dikatakan juga sebagai pusatnya sentra ikan di Pulau Jawa. Jadi jangan salah. Entah itu dari Sukabumi, Lampung, atau dari mana saja, datang ke sini jual hasil tangkapan. Kalau di sini semua tutup saya rasa ada kelangkaan ikan. Pedagang sulit, nelayan juga pusing. Mau enggak mau, jikalau begini terus, pasti pada banting stir," paparnya kembali. (Baca : 

Sementara itu,di dermaga atau tempat bersandarnya kapal-kapal nelayan di Muara Baru, terlihat sejumlah nelayan tengah bersantai di masing-masing kapal. Para nelayan ada yang tengah berbincang dengan nelayan lainnya, ada juga yang masih tertidur pulang di dek kapal mereka.

Mustofa (40), seorang Anak Buah Kapal (ABK) nelayan mengatakan, aksi mogok kerja hanya berlangsung satu minggu saja. Ia yakin kalau aksi tersebut dilakukan selama satu bulan, akan banyak nelayan seperti dirinya yang kesulitan memenuhi kebutuhan istri dan anaknya.

Baca: Beginilah Dampak Mogok Kerja di Kawasan Muara Baru

"Ya kalau nelayan enggak semuanya, ada yang mogok secara sukarela dan ada tidak. Nah saya pribadi antara rela dan enggak rela mas. Sebab yang mogok itu kan pengusaha duitnya banyak mas. Lah kita mau mogok apanya ang untung buat kita mas. Ya maksud saya rela enggak rela ya itu, kadang mogok kadang enggak. Kalau saya enggak nyari ikan, istri sama tiga anak saya enggak hidup lagi mas di dunia, gara-gara kelaperan," ungkapnya.

Esok hari, jelas pria yang mengaku sudah 20-an tahun menjala ikan, akan tetap melaut untuk mencari ikan. Ia mengakui jika hasil tangkapan ikan kini terbilang minim.

"Kenapa minim hasil tangkapannya, ya karena solar juga seret. Kalau bos saya enggak ngasih ongkos solar ya tidak bisa melaut. Makanya, kalau ditanya pusing ya memang kami nelayan pusing mas. Kalau aksi ini enggak dilakukan, ya saya sudah enggak disini (dermaga), masih di tengah laut mas," katanya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved