Breaking News:

Sejumlah Pabrik Ikan di Muara Baru Masih Tutup Operasional

Nampak hanya petugas keamanan setempat yang tengah sibuk berbincang dengan petugas keamanan yang ada di pabrik lainnya.

Penulis: | Editor:
Warta Kota/Panji Baskhara Ramadhan
Sejumlah pengusaha ikan yang tergabung Paguyuban Pengusaha Muara Baru (P3MB), Asosiasi Tuna Indonesia (ASTUIN) dan Himpunan Nelayan Purse Sein Nusantara (HNPN), pedagang ikan, karyawan, hingga ribuan nelayan ikan di Kawasan Muara Baru-Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, melakukan aksi stop operasional sejak Senin (10/10/2016) hingga hari ini, Selasa (11/10/2016). 

WARTA KOTA, PENJARINGAN - Sejumlah pengusaha ikan yang tergabung Paguyuban Pengusaha Muara Baru (P3MB), Asosiasi Tuna Indonesia (ASTUIN) dan Himpunan Nelayan Purse Sein Nusantara (HNPN), pedagang ikan, karyawan, hingga ribuan nelayan ikan di Kawasan Muara Baru-Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, melakukan aksi stop operasional sejak Senin (10/10/2016) hingga hari ini, Selasa (11/10/2016). Muara Baru, masih nampak seperti kota mati, sehingga membuat para pedagang ikan kelimpungan.

Pantauan Warta Kota di Kawasan Pelabuhan Samudera Nizam Zachman Muara Baru hingga kini masih nampak seperti kota mati. Sejumlah pabrik ikan hingga sentra perindustrian ikan di lokasi juga tak terlihat aktivitas pada umumnya.

Tak terlihat satu pun karyawan yang bekerja di beberapa pabrik ikan yang ada. Nampak hanya petugas keamanan setempat yang tengah sibuk berbincang dengan petugas keamanan yang ada di pabrik lainnya.

Sementara itu, di lokasi Pusat Pelelangan Ikan sejak siang hari, tak terlihat aktivitas pedagang ikan. Diketahui, pusat pelelangan tersebut buka pada sore hari, hingga pukul 10.00 WIB malam ini.

Namun, aksi stop operasional yang dilakukan oleh sejumlah pabrik dan pengusaha ikan, juga berbuntut keluhan bagi sejumlah pedagang ikan yang ada di Kawasan Muara Baru. Hartoni (25) selaku pedagang ikan di Kawasan Muara Baru mengatakan dirinya terancam akan gulung tikar lantaran banyaknya pabrik ikan stop operasi.

"Ditanya kami merugi ya jelas merugi, karena biasanya kami mendapat barang (Ikan) yang di pabrik-pabrik, sekarang mengandalkan nelayan dari luar daerah. Hasil tangkapannya kami jual namun berhubung pemberitaan stop operasi ini mencuat ke pemberitaan, berimbas juga terkait sepinya pembeli. Ya kami mau jualan apa kalau begini? Jual angin? Pabrik pada tutup, malahan nelayannya juga ikut-kutan mogok pak. Hari ini tak ada satupun ikan yang saya bisa jual," kata Hartoni di Pusat Pelelangan Ikan (PPI) Muara Baru sore tadi.

Dijelaskan Hartono, sudah lima tahun berjualan ikan, baru dirasakannya saat ini akan krisis ikan di Muara Baru. Ia pun tak menyangka, Nizam Zachman yang dikenal sebagai pelabuhan yang terbesar se-Asia Tenggara, krisis akan ikan laut.

"Lama-lama saya bisa gulung tikar dengan para pedagang ikan di sini. Setidaknya aksi seperti ini jangan sampai menyusahkan pedagang pak. Nelayan saya yakin juga bisa-bisa collapse pak. Toh disuruh berhenti melaut. Seharian enggak menjual ikan, aneh pak. Pemasukan saya untuk biaya sehari-hari saja enggak ada. Pastinya saya harus cari cara lain. Entahlah, saya harap pihak pemerintah bisa atasi hal ini. Bisa gila kaminya yang pedagang ikan kalau begini terus," papar Hartoni kembali.

Diketahui sebelumnya, aksi mogok kerja diakibatkan adanya kebijakan kenaikan uang sewa lahan mencapai 450 persen dalam jangka waktu lima tahun, serta pengosongan paksa bangunan dan gedung perusahaan ikan, terkait adanya rencana pembangunan pasar ikan modern oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (RI), Susi Pudjiastuti. Tak hanya itu, tuntutan para nelayan tersebut antara lain :

1). Tarif sewa naik tidak lebih dari 20 persen.
2). Masa sewa minimal 10 tahun.
3). Pengosongan paksa dihentikan.
4). Tidak ada Oligopoli penjualan solar.
5). Transhipment diizinkan.
6). Bagi hasil keuntungan 25 persen usaha solar di Kawasan Pelabuhan Muara Baru dibatalkan.
7). Pembatasan GR untuk SIPi 150 GT dan SIKPi 200 GT direvisi
8). Pengurusan Izin kapal berlayar selesai dalam kurun waktu 7 hari kerja.

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved