Breaking News:

Ini Penyebab Pengusaha Baru Bangkrut

Jumlah pengusaha di Indonesia baru mencapai 1,65 persen dari jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah 250 juta lebih.

Penulis: Dody Hasanuddin
Editor: Andy Pribadi
Warta Kota/Dody Hasanuddin
Ketua Umum BPC HIPMI Jakarta Pusat, Aaron Sampetoding, dalam acara Financial Literacy Day “Businessman Tangguh Paham Keuangan”, baru-baru ini di Jakarta. 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Jumlah pengusaha di Indonesia baru mencapai 1,65 persen dari jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah 250 juta lebih.

Jumlah tersebut masih jauh dibanding Singapura yang mencapai 7 persen, Malaysia 5 persen, Thailand 3 persen, Jepang 10 persen, dan Amerika Serikat 10 persen.

Sayangnya, sudah jauh tertinggal, hanya empat persen dari jumlah pengusaha di Indonesia itu yang mampu bertahan hidup di lima tahun pertama.

Hal ini disebabkan, para pengusaha muda itu kurang memahami literasi keuangan. Di antara literasi keuangan yang kurang dipahami pengusaha muda itu adalah strategi pemasaran, market, dan kurangnya pengetahuan di bidang keuangan.

"Survei OJK beberapa waktu lalu menunjukkan bahwa tingkat wawasan keuangan masyarakat Indonesia baru sekitar 21.84 persen. Ini masih jauh di bawah benchmark Bank Dunia yaitu 30 persen. Oleh karena itu, Hipmi merasa perlu adanya langkah nyata untuk memperbaiki literasi keuangan masyarakat dan anggota Hipmi pada khususnya, karena literasi keuangan merupakan satu kemampuan yang sangat penting untuk dimiliki oleh pengusaha muda Indonesia. Sehingga ke depannya dapat memperbaiki kualitas pengusaha dan ketahanan ekonomi nasional," kata Ketua Umum BPC HIPMI Jakarta Pusat, Aaron Sampetoding, dalam acara Financial Literacy Day “Businessman Tangguh Paham Keuangan”, baru-baru ini di Jakarta.

Menurut Aaron, sudah menjadi tugas Hipmi sebagai organisasi terdepan kewirausahaan nasional untuk membenahi ekosistem wirausaha pengusaha muda di Indonesia.

Ekosistem wirausaha yang baik adalah apabila pengusaha berada dalam lingkungan yang menopang tumbuh kembangnya usaha dan tingkat ketahanan pengusaha dari tantangan alaminya, yaitu akses ke pendanaan, akses ke pasar, kebijakan pemerintah, budaya masyarakat yang mendukung serta sektor pendidikan yang bersahabat dan menopang tumbuh kembang pengusaha pemula dan muda baru.

Ketua Pelaksana Financial Literacy Day, Ariguna Napitupulu menambahkan, pada pengusaha muda, aspek finansial dalam menjalankan bisnis masih butuh untuk ditingkatkan.

Sebab itu, para anggota HIPMI sebagai salah satu ujung tombak dunia usaha nasional harus selalu update dengan segala hal yang dapat berpengaruh pada kelangsungan bisinisnya, khususnya di bidang keuangan.

Atas dasar fakta-fakta itu lah adalah penting untuk sebuah komunitas untuk ikut serta meningkatkan pengetahuan kepada para pengusaha.

Khususnya mengenai bidang keuangan, seperti konsep keuangan, kebijakan keuangan di Indonesia dan juga update produk keuangan yang dapat di gunakan sebagai alat bantu. (dod)

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved