Terminal Rawamangun Jadi Sepi, Sejak Bus AKAP Pindah dari Sana

Pascapemindahan bus rute Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dari terminal Rawamangun, terminal tersebut terlihat sangat lengang dan sepi kegiatan.

Terminal Rawamangun Jadi Sepi, Sejak Bus AKAP Pindah dari Sana
Warta Kota/Nurfitri Aprilia
Pasca pemindahan bus rute Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dari terminal Rawamangun yang dilakukan pada pertengahan tahun ini, terminal tersebut terlihat sangat lengang dan sepi kegiatan. 

WARTA KOTA, PULOGADUNG -- Pascapemindahan bus rute Antar Kota  Antar Provinsi (AKAP) dari terminal Rawamangun yang dilakukan pada pertengahan tahun ini, terminal tersebut terlihat sangat lengang dan sepi kegiatan.

Bangunan bagus milik terminal Rawamangun itu tidak lagi seramai awal tahun sebelum terjadi pemindahan titik keberangkatan dan titik kedatangan dari bus AKAP jurusan Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Sepanjang sudut lorong lantai satu bangunan tersebut tidak terlihat banyaknya penumpang yang hendak melakukan perjalanan ke luar kota, kalaupun ada hanya sekian pasang kaki yang lalu lalang.

Menurut Komandan Regu (Danru) unit Rawamangun, Chaidirsyah (54) yang ditemui dikantor nya pada Senin (10/10), Terminal Rawamangun ini sudah mulai sepi penumpang semenjak terminal ditinggalkan oleh bus AKAP ke Terminal terpadu Pulogebang pada Juli lalu.

"Kalau sekarang terminal sepi sekali, penumpang bisa dibilang gak keliatan lah. paling banyak 10 orang dari satu bus, kadang malah bener-bener gaada juga pernah, dampaknya ke semua pihak jadinya. Tapi kan ini perintah untuk pemindahan trayek ya tidak bisa ditentang selama tujuannya memang bagus," ujar Danru yang sudah bertugas sejak satu tahun lalu.

Bus AKAP yang trayeknya dipindah menurut Danru asal Jakarta ini diantaranya bus Jawa Tengah dan Jawa Timur, sebelumnya kedua trayek tersebut yang dapat dikatakan paling ramai oleh penumpang dari Jakarta dan sekitarnya.

Sejak tiga bulan lalu, bus AKAP yang masih beroperasi di Terminal Rawamangun hanya tersisa jurusan Sumatera dan Bali, bus - bus tersebut melakukan perjalanan setiap hari meski selalu sepi. "bus-bus yang ada tinggal Sumatera dan Bali, seperti keramat jati, pahala, lorena, putra pelangi, gumarang, dan laju prima. jadwal keberangkatan pagi itu untuk tujuan Sumatera, sedangkan diatas jam 13.00 itu jadwalnya bus jurusan Bali," terang pria yang berdomisili di Tambun, Bekasi ini.

Pemindahan trayek ini juga memberikan dampak kepada beberapa pekerja lain yang menjadikan terminal Rawamangun sebagai tumpuannya menafkahi keluarga, diantaranya ada Nardi (50) yang bekerja sebagai ojek di pintu keluar masuk terminal ini. Menurutnya, pemindahan trayek ini sangat tidak menguntungkan baginya "iya semenjak pemindahan trayek, saya susah sekali mencari penumpang, susah juga dapet uang, kan hanya disini tempat saya mencari uang," ujar bapak yang sudah berambut putih ini.

Hal yang sama dirasakan bagi kuli angkut, pemindahan trayek ini tidak kalah menyulitkan mereka dalam mencari pengguna jasa di sekitaran lapangan terminal, "jelas susah mba sekarang, biasanya kan ramai yang mau ke jawa dari sini, bawa banyak barang jadi pasti kuli angkut kepakai sekali, kalo sekarang boro-boro deh. Biasanya sehari bisa Rp. 100.000 kalau sekarang, buat dapat Rp 20.000 aja harus berebutan sama yang lain," ujar Syamsul

Mengingat tujuan utama pemindahan trayek ini sejak pertengahan tahun 2016 adalah untuk mengurai kemacetan dari bus-bus luar kota yang masuk ke wilayah Jakarta, sehingga Danru unit Rawamangun ini mengatakan kalau setuju saja dan tetap menjaga amanah dari pusat meski saat ini terminal Rawamangun bisa dikatakan seperti terminal yang tidak lagi digunakan.

Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved