Breaking News:

Aksi Mogok Bikin Rugi Sentra Perikanan di Pelabuhan Muara Baru

"Aksi stop operasional, itu ada 1600 kapal tak melaut, tak beroperasi juga di bagian gudang, lalu ada perusahaan besar itu ada lebih dari 30 perusahaa

Penulis: | Editor: Andy Pribadi
Warta Kota/Panji Baskhara Ramadhan
Ketua Paguyuban Pengusaha Perikanan Muara Baru (P3MB), Tachmid Widiasto Pusoro. 

WARTA KOTA, PENJARINGAN -- Sejumlah pengusaha ikan laut yang tergabung dalam Paguyuban Pengusaha Perikanan Muara Baru (P3MB), Asosiasi Tuna Indonesia (ASTUIN), Himpunan Nelayan Purse Sein Nusantara (HNPN), pedagang ikan, karyawan pabrik, hingga ribuan nelayan ikan di Kawasan Muara Baru hingga Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, melakukan aksi mogok kerja dan tutup operasional, pada Senin (10/10).

Ketua P3MB, Tachmid Widiasto Pusoro, akui aksi tutup operasional perindustrian ikan yang di Muara Baru, menimbulkan berbagai macam bentuk kerugian, baik langsung maupun tidak langsung.

"Aksi stop operasional, itu ada 1600 kapal tak melaut, tak beroperasi juga di bagian gudang, lalu ada perusahaan besar itu ada lebih dari 30 perusahaan, kemudian toko-toko di Muara Baru seperti bengkel mesin kapal, Usaha Kecil dan Menengah, pokoknya ini kerugiannya pastinya berkesinambungan. Banyak sekali. Mau itu tak langsung maupun kerugian langsung," papar Tachmid.

Baca: Hari Ini Pasokan Ikan Terganggu

Ia mengatakan, kerugian dibagi menjadi dua bagian yang diantaranya kerugian langsung dan tak langsung.

Mengenai kerugian langsung itu, jatuh pada kerugian materil seperti terhentinya beroperasi 1600 kapal yang diketahui terhitung ada 35.000-an Anak Buah Kapal (ABK) tidak bekerja pada hari ini.

"Untuk prosesing (pabrik) saja ada karyawan ada 10 ribu lebih. Sementara kalau kerugian tak langsung terhitung ada 40.000 karyawan atau jadi ditotal yang kerugian langsung ada 85.000-an buruh lah. Coba dipikir, jikalau satu buruh menghidupkan empat jiwa, ya ditotal-total bisa sekitar 350 ribu orang yang butuh penghidupan karena kebijakan pemerintah ini," ungkapnya.

Tachmid juga menyebutkan kerugian lain yakni terkait hasil tangkapan ikan. Menurut dia, setiap kapal satu trip (satu kali jalan) per-harinya dapat menangkap ikan di laut mencapai 100 ton ikan perharinya.

"Berarti, kalau 1600 kapal bergerak semua, bisa terhitung ada 160 ribu ton ikan hasil tangkapan. Nilai nominal ikan hasil tangkapan pursen rata-rata Rp 15-20 ribu, karena menangkap ikannya itu ya ikan cakalang dan kembung. Kalau hasil tangkapan ikan Long Line, bisa Rp400 ribu per kilonya. Cumi-cumi juga harganya mahal. Nah, kerugian lainnya yakni kehilangan perputaran uang. Perharinya saja terhitung Rp 30 miliar hasil perputaran uang di Pemasaran Ikan Lokal di Muara Baru," paparnya.

Tachmid menambahkan, "Karena kita distribusi ikan pemindang di sini kan bisa seluruh Jawa Barat, Jawa Tengah, bagian selatannya Pulau Jawa, Sukabumi, Bandung, Indramayu, Bitung, Cirebon. Nah daerah-daerah itu lah kami suply ikan. Suplly juga pemindang di Lampung dan suply konsumsi ada di Palembang. Pasar-pasar di Jabodetabek juga alami kerugian juga. Sebab di Muara Baru sekitar 50 persen berkontribusi untuk perputaran ikan hingga Sumatera Selatan (Sumsel)," kata Tachmid.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved