Breaking News:

Pemilik Gudang Beras Mengklaim Terjadi Kecolongan, Mafia Beras Sewa Gudangnya

Memang, ada sedikit hal tak wajar, ketika pemilik beras itu menyewa gudang hanya untuk waktu empat bulan. Biasanya, per tahun.

Warta Kota/Nur Ichsan
Ilustrasi. Gudang tempat praktek pengoplosan beras. 

WARTA KOTA, CIPINANG -- Dirut PT Food Station Tjipinang Jaya, Arief Prasetyo Adi mengaku kecolongan terkait adanya praktik pengoplosan beras Bulog dengan beras lokal yang dilakukan salah satu penyewa gudang Blok T2 Pasar Induk Beras Cipinang miliknya.

Ia mengatakan, memang ada sedikit hal tak wajar, ketika pemilik beras itu menyewa gudang hanya untuk waktu empat bulan. Biasanya, seseorang menyewa gudang per tahun.

“Si penyewa baru menggunakan gudang ini sekitar sebulan. Jangka waktu sewanya hanya empat bulan. Ini memang sesuatu yang tidak lazim,” katanya di gudang lokasi penggerebekan, Jumat (9/10/2016) sore.

“Untuk mengontrol apakah ia mengoplos beras Bulog, itu sangat teknis dan sulit kami lakukan. Sebab di Food Station sini ada 736 outlet dan ratusan gudang. Kami hanya memantau beras masuk dan keluar dari lokasi sebagai data ketersediaan beras,” katanya.

Sebelumnya, kepolisian menggerebek sebuah gudang beras di Pasar Induk Cipinang, Pulogadung, pada Rabu (5/10/2016).

Penggerebekan dilakukan lantaran di gudang itu diduga telah terjadi aktivitas mengoplos beras. Mabes Polri juga tengah memintai keterangan tujuh orang saksi dalam kasus ini.

Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Pol Ari Dono Sukamto mengatakan, pada Rabu (5/10) sejumlah pekerja tengah mengoplos beras lokal asal Demak, Jawa Tengah, dengan beras impor Thailand. Beras impor ini merupakan beras impor cadangan (BCP) yang biasa digunakan untuk operasi pasar.

"Beras impor Thailand dioplos dengan beras lokal asal Demak, untuk dijadikan beras premium,," kata Ari Dono, saat melakukan olah tempat kejadian perkara di gudang Blok T2 Pasar Induk Beras Cipinang, Jumat.

Menurutnya, hasil penyelidikan anggotanya, ada sekitar 1,5 juta ton beras impor Thailand yang masuk ke Jakarta tanpa melalui Delivery Order (DO) resmi. Beras itu kemudian sebanyak 400 ton masuk ke gudang di Pasar Induk Cipinang, 800 ke gudang Bulog Divre DKI di Kelapa Gading dan 300 ton lainnya masih dalam pencarian.

Para pelaku mengoplos dengan komposisi, beras lokal 2/3 persen dan beras impor 1/3. Setelah dioplos beras dikemas menjadi beras premium dan dijual seharga Rp 11 ribu per kilogram.

“Keuntungan per kilo dari hasil oplosan ini Rp4500,” kata Ari Dono.

Penulis: Feryanto Hadi
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved