Gagal Panen Picu Harga Cabe Pasar Induk Kramat Jati Melesat

Seperti diketahui, kebutuhan pangan sering kali mengalami kenaikan yang disebabkan faktor cuaca maupun stok pangan.

Editor: Gede Moenanto
Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Harga cabe merah masih mahal dan terus meroket, akibatnya penjualan sangat lesu. 

WARTA KOTA, KRAMATJATI -- Menjelang akhir tahun, harga komoditi cabe Pasar Induk Kramat Jati Jakarta timur merangkak naik.

Seperti diketahui, kebutuhan pangan sering kali mengalami kenaikan yang disebabkan faktor cuaca maupun stok pangan.

Suminto (40) Staf data Pasar Induk Kramat Jati mengatakan jika harga komoditi cabe, seperti cabe merah kriting dan cabe merah besar mengalamin kenaikan pada bulan ini.

"Kenaikan harga pangan, itu disebabkan karena cuaca dan permintaan pangan yang tinggi menjelang Perayaan Natal dan Tahun," ujar Suminto saat ditemui warta kota, kamis (6/10/2016).

Sementara untuk harga ko­moditas pangan seperti harga cabai rawit merah kriting dan cabe merah besar rata-rata mengalami kenaikan cukup signifikan dalam dua bulan ini.

Sebelumnya bulan Juli, harga cabe merah keriting di kisaran Rp 23.000 per kg, kini melonjak menjadi Rp 35.000 per kg.

Sedangkan cabe merah besar pada juli lalu di kisaran harga Rp.23.000 per kg, kini juga merangkak naik menjadi Rp 39.000 per kg.

Berbeda dengan cabe rawit merah dan cabe rawit hijau yang sedang mengalami penurunan, jika pada juli lalu cabe rawit merah di kisaran Rp 32.000 per kg, kini, menurun pada oktober ini kisaran Rp 15.000 per kg, sedangkan cabe rawit hijau, Juli lalu, Rp.14.000, kini, bulan Oktober mengalami penurunan di kisaran Rp 9.000 per Kg.

Saat ini, harga bawang merah juga mengalami penurunan dikisaran Rp 19.000-Rp 21.000 per kg. jika sebelumnya mengalami kenaikan di bulan Juli, yang bertepatan dengan hari raya Lebaran berkisar Rp 36.000 per kg.

Menurut Suminto, kenaikan disebabkan karena sentra produksi di Yogyakarta mengalami puso (gagal panen) kerena banjir bulan lalu.

Sedangkan di Jawa Barat mengalami layu buah (belum panen buah sudah layu) karena banyak hujan sehingga pasokan untuk cabe merah keriting jadi menurun, sehingga pasokan pun beralih ke Bali.

"Menjelang akhir tahun, tidak dapat diprediksikan karena kondisi cuaca tidak menentu, namun jika dihitung cuaca normal meskipun ada kenaikan komoditi sayur mayur tidak lebih dari 15%, karena akhir tahun kebanyakan orang lebih butuh rekreasi berbeda ketika hari raya Lebaran," katanya.

Suminto belum bisa memastikan pasokan hingga akhir tahun, dengan adanya lalina basah ini memiliki faktor negatif dan positif, positifnya ketersediaan sayur mayur stabil, namun negatifnya sayur mayur banyak yang rusak.

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved