Kenalkan, Suster Madonna, Lansia Terkuat di Dunia!

Meski usianya kini sudah 86 tahun, jangan pernah meremehkan kekuatan fisiknya.

WARTA KOTA, PALMERAH - Namanya adalah Madonna Buder. Ia adalah suster dari ordo Komunitas Kristen di Spokane, Washington, Amerika Serikat.

Meski usianya kini sudah 86 tahun, jangan pernah meremehkan kekuatan fisiknya. Madonna sudah mengikuti sebanyak 45 lomba Ironman Triathlon. Rinciannya, ia sudah berenang sejauh 2,4 mil, bersepeda 112 mil, dan berlari maraton berkilo-kilo jauhnya.

Madonna pertama kali berkompetisi di ajang Ironman pada usia 65 tahun. Sepuluh tahun kemudian, ia mengklaim rekor wanita tertua yang pernah bersaing dalam lomba tersebut.

Dia mengikuti lomba lari maraton Boston pada 2008, di usia 78 tahun. Catatan waktunya kala itu adalah 04:42:41. Delapan tahun setelah itu, merek besar di dunia olahraga, Nike, meminangnya sebagai bintang iklan mereka.

"Saya masih bingung dengan hal itu. Mengapa saya bisa dipilih, saya tidak tahu," ujarnya.

Madonna juga seorang Olimpian senior. Ia memegang catatan dalam lomba lari berjarak 1 mil, 5 kilometer, 5 mil, 800 meter, 1.500 meter, 5.000 meter, dan 10 ribu meter. Hebatnya lagi, dia tidak punya pelatih dan tidak menggunakan teknologi untuk membantunya saat berlatih. Ia bahkan tidak punya jam tangan!

Seperti kebanyakan atlet, Madonna juga tak asing dengan cedera. Ia mengaku sebagai 'Wanita Baja' karena memang ada pelat baja di pinggulnya, serta pin dan sekrup di kedua sikunya.

"Lengan kanan saya sudah enam kali mengalami cedera, masih berada di tempatnya saat ini adalah sebuah keajaiban," guraunya, seperti dikutip dari mentalfloss.com

Ketika baru memulai hobinya yang tak lazim itu, Madonna mengaku berkonsultasi dengan uskupnya, yang disambut dengan dukungan penuh.

"Saya sekarang mungkin kurang efektif di biara. Tapi dengan berada di tengah-tengah masyarakat, saya bisa mempengaruhi orang dengan memberikan contoh," ucap Madonna dalam bukunya, The Grace Race.

Menurut Madonna, hubungan antara hobinya mengikuti ajang Ironman, erat dengan kehidupan spiritualnya sebagai biarawati.

"Menuju ke garis finis dari ajang IRONMAN seperti sampai ke gerbang mutiara (surga). Saya pikir itulah sebabnya saya tersenyum setiap kali berhasil finis," tuturnya. (*)

Penulis: Yaspen Martinus
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved